Melihat Potensi Bottoming IHSG Dari Saham – Saham Dengan Market Cap Terbesar

Berikut adalah Top 10 saham dengan Market Cap terbesar pada IHSG (per tanggal 16 April 2020) :

The Primary Trader hanya mengambil 7 dari saham tersebut dan membandingkannya dengan IHSG sejak awal tahun 2020 :

Live Chart here

Dari chart di atas, ada dua golongan yaitu Outperform (BBCA, TLKM, UNVR dan HMSP) dengan bobot total sebesar 26.55% dari IHSG serta Underperform (BBRI, BMRI dan ASII) dengan bobot total sebesar 12.7% dari IHSG.

The Primary Trader melihat prospek bisnis TLKM di tengah pandemi ini cukup baik karena ditopang oleh Telkomsel serta Indihome yang sangat diperlukan ketika tren Work From Home (WFH) meningkat. Sebagai perbandingan, pada minggu terakhir bulan Maret 2020, Data Traffic internet EXCL meningkat 15% dari minggu sebelumnya. Saat itu adalah dimana tren WFH mulai terjadi.

Sementara bisnis UNVR mungkin sedikit terganggu namun setidaknya tidak berkurang banyak karena produknya adalah kebutuhan sehari – hari (yang tentu tetap diperlukan). The Primary Trader tidak ingin banyak berkomentar mengenai HMSP tapi sepertinya ancaman wabah Covid-19 tidak mengurungkan niat perokok untuk tetap merokok.

Dengan demikian, keempat saham di golongan Outperform memiliki prospek yang menarik sehingga mungkin akan terus menjaga IHSG untuk tidak turun lebih dalam. Ancaman utama saat ini terletak pada bisnis saham di golongan Underperform yaitu BBRI, BMRI dan ASII.

Pada Maret 2020, ASII memang berhasil meningkatkan Market Share dari sekitar 45% di Desember 2019 menjadi 60%. Tampaknya hal ini disebabkan oleh persaingan di industri otomotif yang berkurang. Tren penjualan mobil sendiri memang terus turun dari September 2019 yang sempat tumbuh sebesar 25.9% (!). Pada Maret 2020, terjadi penurunan penjualan mobil yang wajar karena disebabkan wabah Covid-19.

Salah satu perhatian utama di sektor Bank adalah peningkatan kredit macet (NPL) karena semakin banyak tingkat pengangguran serta bisnis yang terganggu karena aktifitas masyarakat turun. OJK dan BI cukup cepat merespon hal ini salah satunya dengan aturan OJK untuk relaksaksi pembayaran kredit. BI telah menurunkan Reserve Ratio Bank sebesar 2% dan merupakan yang penurunan RR yang kedua di tahun 2020. Akan ada tambahan likuditas bagi Bank untuk memberikan kredit. Per Januari 2020, Loan to Deposit Ratio (LDR) sendiri berada di 92.6% dan masih ada ruang untuk dinaikkan. Namun tentu salah satu kekhawatiran saat ini adalah peningkatan NPL sehingga relaksasi dan usaha OJK serta BI mungkin cenderung tidak signifikan memberikan sentimen positif pada sektor Perbankan.

Oleh karena itu, The Primary Trader khawatir sektor Perbankan akan menjadi pemberat (terutama BBRI dan BMRI) bagi IHSG untuk mengawali Uptrend nantinya. Perlu sentimen yang signifikan menjaga agar NPL tidak melonjak ditengah pandemi Covid-10. Untuk BBCA, rasanya Investor akan kembali menggunakan BBCA sebagai Safe Heaven di IHSG.

Secara umum, The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop untuk IHSG menuju ~3,750 atau setidaknya di bawah Lowest 2020 di ~3,910.

Bottoming-kah IHSG ?

Pergerakan Sektor Penggerak IHSG

Menggunakan grafik “Trend and Momentum in Sectors” pada 2 tanggal yaitu 11 – 12 Nov’19, The Primary Trader melihat ada potensi sektor – sektor Big Cap seperti Auto dan Telecom mendorong IHSG. Sektor Auto di 11 Nov’19 masih berada di dalam kondisi Downtrend namun Oversold.

Pada 12 Nov’19, sektor Auto sudah berada di luar kondisi Oversold yaitu Netral namun masih dalam kondisi Downtrend. Hal ini menandakan adanya kenaikan. Meski berada di area Netral pada 11 – 12 Nov’19, sektor Telecom mencatat kenaikan pada sumbu x yaitu Momentum Meter (menggunakan Stoch. Osc). Artinya adalah ada kenaikan harga pada sektor Telecom namun masih ada Upside Potential karena belum Overbought.

Sektor lain yang menurut The Primary Trader menjadi pendorong IHSG adalah FMCG dan Banking dimana kedua relatif stabil berada di area Netral namun dalam kondisi Downtrend (di sebelah kiri sumbu y atau Trend Meter yang menggunakan indikator %B dari Bollinger Band). Masih ada potensi kenaikan sebelumnya kedua sektor masuk ke area Overbought seperti pada sektor Tower, Coal dan Paper.

Meski perlahan, sektor Industrial Area tampaknya mulai bergerak naik dan masih dapat diperhatikan karena masih dalam kondisi Netral. Begitupun dengan sektor Oil&Gas yang berbasis komoditas dimana ada kenaikan perlahan namun masih dalam kondis Netral. Kedua sektor tersebut masih memiliki Upside Potential sebelum mencatat Overbought.

Pergerakan Saham Penggerak IHSG

Pergerakan saham di sektor Auto (ASII) dan Telecom (TLKM, EXCL dan ISAT) menunjukkan potensi ASII dan TLKM sebagai pendorong IHSG. Dari pergerakan sejak Agus’19, ada indikasi ASII telah membentuk Bottoming karena penurunannya telah tertahan (indikasi Double Bottom dari Agust’19 dan Okt’19). Sementara itu, TLKM dari sejak Mei’19 telah berada dalam Uptrend. Dengan demikian, penurunan dari sejak Agust’19 terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction atau penurunan singkat untuk melanjutkan Uptrend.

BBCA tidak diragukan lagi berhasil menopang IHSG selama ini. Dari Bank BUMN, BBRI bersama BBCA menjaga IHSG tidak turun jauh. Saham Bank BUMN yang berpotensi menopang dan mengangkat IHSG dalam waktu dekat adalah BBNI dan BMRI yang saat ini mencatat Negative Return (dari awal tahun ). Ada indikasi BBNI dan BMRI telah menyentuh Bottom di Okt’19 yang kemungkinan adalah sebagai reaksi antisipasi kinerja 3Q19 yang diperkirakan kurang bagus (namun ternyata hasilnya tidak terlalu mengecewakan).

Sektor FMCG seperti INDF dan ICBP bergerak menarik di 2H19 seiring dengan sentimen negatif atau faktor Pemilu selesai. Ekonomi Indonesia terbukti bertahan karena adanya Domestic Consumption yang memang menjadi sentimen positif untuk sektor FMCG. UNVR sebagai saham besar yang mulai kehilangan sentimen positif-nya tampaknya sulit diharapkan untuk naik dan mendorong IHSG. Hal ini karena menurut The Primary Trader, ada pertumbuhan pada sektor konsumsi makanan seperti INDF dan IBCP. Meksi kebutuhan semakin banyak namun sektor bisnis UNVR dapat dikatakan sudah dalam fase Mature sehingga sulit tumbuh.

Sudah Bottom – kah IHSG?

Volatilitas IHSG dari sejak awal tahun 2019 semakin mengecil. IHSG sempat naik sampai 6% di 1Q19 namun juga sempat turun -6% di 2Q19. Pergerakan IHSG di 2H19 relatif hanya naik sampai 4% – 5% dan hanya turun -3% (dari awal tahun 2019).

Penurunan volatilitas menurut The Primary Trader adalah awal dari suatu tren baik Uptrend maupun Downtrend. Oleh karena itu, The Primary Trader memperkirakan IHSG akan segera mengawali Uptrend. Perlu diingat juga bahwa penurunan volatilitas dapat juga mengindikasikan awal Downtrend. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bila terjadi Breakdown pada IHSG.

Level Support Psikologis IHSG saat ini ada di 6,000 dan atau 6,100. The Primary Trader memilih menggunakan Support Psikologis di 6,100 untuk menandakan awal Downtrend – bila terjadi Breakdown 6,100. IHSG perlu Breakout 6,500 untuk memulai Uptrend. The Primary Trader percaya IHSG akan mengawali Uptrend (segera) yang ditandai dengan Breakout 6,500.

INDF : Bersiap Menggantikan UNVR Sebagai Saham Penopang IHSG

Perbedaan Market Cap

The Primary Trader menyadari perbedaan Market Cap INDF dengan UNVR sangatlah jauh. Berdasarkan data per 12 November 2019 (melalui STAR dan Samuel Sekuritas), Market Cap INDF adalah sebesar Rp69.5 triliun dengan Index Weight sebesar 0.98% sementara Market Cap UNVR adalah sebesar Rp282 triliun dan Index Weight sebesar 4.61%. “Nilai” UNVR hampir 4x INDF dan hal ini membuat UNVR sangat sulit digantikan oleh INDF.

Potensi Menarik Dari Mie Instant Dan CPO

The Primary Trader melihat ada potensi INDF bergerak lebih menarik dari UNVR karena potensi bisnis dari INDF itu sendiri. Keduanya masuk ke dalam sektor Consumer Goods Industry namun INDF masuk ke sub sektor Food and Beverages sementara UNVR masuk ke sub sektor Cosmetics and Household. Hal inilah yang berpotensi menjadi katalis INDF menjadi lebih menarik dibanding UNVR – dan kemungkinan Investor beralih dari UNVR ke INDF.

Salah satu hal yang membuat INDF menarik adalah bisnis Mie Instan (ICBP) dan CPO (LSIP dan SIMP). Kedua bisnis tersebut berpotensi mendorong INDF dan menjadi lebih menarik bagi Investor dibanding UNVR. Untuk Mie Instan, harga gandum yang relatif rendah (turun dari 55% dari sejak 2013) dalam mendorong marjin ICBP (Gross Margin di 3Q19 : 35.1% vs 3Q18 : 32.9%). Inovasi rasa yang dilakukan pun berhasil membuat ICBP tetap menguasai pasar mie instan.

Bisnis lain dari INDF (yang cukup signifikan) adalah CPO dimana INDF memiliki porsi di LSIP dan SIMP. Untuk CPO, ada potenis menarik karena di tahun 2020, pemerintah menaikkan kandungan CPO di dalam Biodiesel dari 20% saat ini (B20) menjadi 30% (B30). Hal ini tentu akan meningkatkan permintaan CPO di dalam negeri. Selain itu, Malaysia mengatakan minat untuk mengikuti langkah serupa. Hal ini menjadi katalis positif untuk harga CPO.

Saat ini harga CPO Malaysia sudah dalam Uptrend setelah Bullish Reversal telah terkonfirmasi dengan Breakout Resistance MYR3,000 di Okt’19 lalu. CPO Malaysia setidaknya dapat naik sampai MYR2,700 namun terbuka untuk terus naik sampai MYR2,850 dan MYR3,200.

Bullish Continuation Ditengah Bullish Reversal

The Primary Trader melihat INDF sedang di awal Uptrend setelah Downtrend terkonfirmasi berakhir di awal tahun 2019 (dengan Breakout Down Trendline di Rp6,000). INDF berpotensi melanjutkan Uptrend menuju Rp10,000 setelah Breakout Rp8,000 (yang mana The Primary Trader perkirakan terjadi di bulan Nov’19 atau setidaknya tahun 2019 ini). Breakout Rp8,000 akan mengonfirmasi pola Bullish Reversal yang telah terbentuk sejak awal tahun 2019. Breakout Rp8,000 pun akan mengonfirmasi pola Bullish Continuation yang terbentuk sejak Sept’19 sebagai bagian dari Bullish Reversal. Hal inilah yang menurut The Primary Trader menambah peluang Uptrend untuk INDF.

INDF Berpotensi Outperform UNVR

Berdasarkan Ratio Chart antara INDF terhadap UNVR, memang terbukti UNVR menjadi saham Defensif (seperti pada tahun 2008, 2011, 2013 dan 2015) dimana apabila Ratio Chart-nya turun maka hal ini menunjukkan UNVR lebih baik daripada INDF. Namun The Primary Trader melihat adanya indikasi Bullish Reversal jangka panjang (dari sejak 2015, menyerupai Double Bottom). Hal ini menunjukkan ada potensi INDF berada dalam tren Outperform terhadap UNVR – dalam jangka panjang.

Valuasi PE TTM INDF masih murah

Berdasarkan valuasi menggunakan PE TTM (4 kuartal terakhir) – favorit The Primary Trader, INDF masih murah karena di bawah rata – rata 3 tahun terakhir. PE TTM INDF saat ini di level 14.3x sementara rata – rata 3 tahun adalah sebesar 15.5x. Bila INDF menyentuh level 15.5x maka harga saham INDF ada di Rp8,600.