Money Flow menjadi katalis positif. akankah tetap bertahan ?

Pada empat bulan pertama tahun 2020, Rupiah melemah sebesar 22% terhadap US Dollar. Perlemahan dua bulan terakhir (Maret – April 2020) disebabkan karena Investor global khawatir akan kondisi dunia sehingga memilih untuk keluar dari Emerging Market, termasuk Indonesia dan bahkan aset – aset di Developing Market termasuk US. Bahkan Investor panic buying membeli obligasi negara maju meskipun Yield-nya sudah negatif. Harga emas dunia bahkan terus naik mencapai level tertinggi dari tahun 2012.

Sejak April 2020, IHSG dan SUN mulai naik sebesar 29% sampai awal Juni 2020 sementara Yield SUN10Yr telah turun dari 8.3% ke 7% yang membuat harga FR82 (Benchmark SUN 10Yr) telah naik dari harga 92% ke 99% (naik ~7.6%) . Penguatan dari harga saham dan SUN dapat dilihat dari penguatan Rupiah terhadap US Dollar yang dapat diartikan adanya Capital Inflow dari Investor Asing.

Pada April 2020, di saat Indonesia masih dalam lockdown (PSBB) dan dunia masih berpacu melawan Covid-19 dengan Lockdown, ada tren penguatan Rupiah serta aset saham US (yang diwakili oleh S&P500). Saat ini, Ekonom masih mengkhawatirkan terjadinya resesi global dan semakin percaya V-Shape Recovery tidak mungkin terjadi. Namun ada indikasi bahwa Covid-19 dapat dihadapi dengan baik tanpa perlu Lockdown ketat yaitu dengan Physical Distancing dan menggunakan masker non-medis (yang sudah banyak tersedia dengan harga murah). Saat itulah aset Safe Heaven seperti emas mulai melemah dan Risky Asset termasuk aset keuangan Emerging Market seperti Indonesia mulai menguat.

Money Flow dan Investor Asing memang sangat berpengaruh terhadap pergerakan aset keuangan di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya Foreign Outflow pada 5M20 (dan sangat besar dibanding 10 tahun terakhir), maka wajar terjadi penurunan yang dalam pada saham dan obligasi. Namun perlu diingat bahwa secara historis, Foreign Outflow tersebut pada tahun berikutnya diikuti oleh Foreign Inflow – dan lebih besar dari sebelumnya.

Optimisme Masyarakat

Tidak banyak negara – negara yang masyarakatnya Optimis. Bila dilihat dari Consumer Confidence negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, Indonesia relatif tinggi dan optimis. Indonesia relatif sama seperti Thailand namun mengingat sektor Tourism (yang sangat berkaitan erat dengan ekonomi Thailand) memerlukan waktu yang lama untuk Recovery maka tampaknya Consumer Confidence Thailand akan lebih lambat pulih dibanding Indonesia. Vietnam adalah salah satu negara yang berhasil melawan Covid-19 sehingga wajar Consumer Confidence-nya tinggi (dan bertahan di level tinggi).

Optimisme masyarakat yang baik akan sangat penting pada masa pelonggaran atau Re-Opening atau PSBB Transisi (yang sedang dijalankan di DKI Jakarta + Bodetabek). Saat ini mal – mal mulai kembali buka dan aktifitas ekonomi perlahan kembali diizinkan. Dengan demikian, tentu masyarakat mulai memperoleh pendapatan lagi yang sangat positif untuk perekonomian – dan harga saham serta SUN.

Survei yang dilakukan oleh Mandiri Sekuritas menunjukkan pada minggu pertama PSBB Transisi, mal yang High Class cukup banyak dikunjungi. Memang kemungkinan besar, berdasarkan survei Mirae Asset, masyarakat menengah ke atas yang akan tetap berkunjung ke mal namun masyarakat menengah ke bawah bukan berarti tidak berbelanja.

Peningkatan aktifitas masyarakat pada PSBB Transisi meningkat. Hal ini saja sudah dapat memberikan harapan bagi pekerja yang mengandalkan penghasil dari pergerakan masyarakat (seperti Driver Online, warung makan dan pedagang kaki lima). Oleh karena itu, ada potensi ekonomi Indonesia di 2H20 dapat tumbuh dan tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Ekonomi Indonesia di 2Q20.

Berdasarkan estimasi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4.18% YoY di 1Q20 namun ternyata ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2.97% YoY. Ekonomi Indonesia sendiri sudah dua kuartal turun (bila dibandingkan dua kuartal sebelumnya atau QoQ). Pada 4Q19, ekonomi Indonesia turun -1.74% QoQ dan di 1Q20 turun -2.41% QoQ. Secara historis, ada pertumbuhan di 2Q20 dan disinilah letak masalahnya.

Ekonomi di 1Q20 memang masih tumbuh (2.97% YoY) namun perlu diingat bahwa PSBB di DKI Jakarta baru berlaku awal April 2020 sehingga penurunan ekonomi di 1Q20 adalah dampak langsung dari Lockdown dari beberapa negara seperti China dan Uni Eropa. Memang di Februari 2020, pemerintah Indonesia juga melakukan Lockdown dan membatasi arus manusia namun belum ada penutupan tempat bisnis yang masif seperti penutupan mal dan kantor. Oleh karena itu, dampak PSBB terhadap ekonomi baru akan terlihat pada 2Q20.

Dengan demikian, tentu ada potensi pertumbuhan ekonomi di 2Q20 dapat turun lebih dalam lagi dan bahkan mencatat pertumbuhan negatif bila dibandingkan 2Q19 (YoY). Hampir pasti ekonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan negatif dibanding 1Q19 (QoQ). Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia relatif cukup responsif dalam menghadapi ancaman tersebut sehingga The Primary Trader melihat adanya katalis positif.

Pemerintah Indonesia memang telah bersiap untuk menghadapi kondisi yang buruk dengan menaikkan Defisit Anggaran dari maksimal -3% menjadi -5.07% yang kemudian direvisi lagi menjadi -6.72%. Pemerintah juga bersiap memberikan stimulus terbesar sepanjang sejarah yaitu Rp405 triliun. Stimulus inilah yang diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari langkah pencegahan penyebaran Covid-19 terhadap ekonomi.

Sampai 10 Juni 2020, pemerintah disebutkan telah menyebarkan stimulus sebesar 34% dari target. Salah satu stimulus terpenting yaitu pemberian kas kepada warga selain Jabodetabek meningkat dari Rp4 triliun di akhir April 2020 menjadi Rp12 triliun di Juni 2020. Pemberian THR kepada PNS, TNI dan Polri serta karyawan pun memberikan dukungan tambahan ditengah PSBB ini.

Senada dengan pemerintah, BI pun memberikan “stimulus”-nya dimana pada RDG Juni 2020, BI 7DRR Rate dipotong sebesar 0.25% menjadi 4.25%. BI telah mempertahankan BI 7DRR Rate selama dua bulan April dan Mei 2020 dengan alasan yang tepat yaitu untuk menjaga stabilitas serta mendukung PSBB pemerintah. Di bulan Maret 2020, BI sebenarnya telah memotong BI 7DRR Rate sebesar 0.25% dari 4.75% menjadi 4.5%.

Indonesia Interest Rate

Seiring dengan adanya pelonggaran PSBB (menjadi PSBB Transisi) serta diharapkan adanya perlambatan penyebaran infeksi Covid-19 dan niat pemerintah untuk perlahan mendorong perekonomian (dalam rangka menjaga penghasilan masyarakat), BI diperkirakan akan kembali memotong BI 7DRR Rate. Selain karena adanya kecenderungan BI terus melakukan Cut Rate berturut – turut, secara perbandingan, Yield Indonesia masih relatif menarik dibanding negara – negara berkembang lainnya.

Menunggu Foreign Inflow Setelah Indikator Analisis Teknikal Cenderung Positif

Seiring dengan perlemahan VIX yang menjadi indikasi risiko bagi Investor global (Investor US) maka S&P500 berpotensi terus naik. Bullish pada S&P500 secara langsung memberikan sentimen positif bagi bursa global termasuk Indonesia.

IHSG telah naik sebesar 27% dari akhir Maret 2020 sementara baru pada pertengahan Mei 2020 kenaikan IHSG diikuti oleh Foreign Flow. Memang Foreign Inflow dari Mei 2020 belum terlihat akan membalikkan tren Foreign Outflow yang telah terjadi sejak tahun 2017 namun setidaknya bila dibandingkan dari tahun 2020, ada harapan terjadi Net Foreign Inflow. Setidaknya di awal tahun 2020, Foreign Flow sempat Flat yang menandakan tren Foreign Outflow sempat tertahan (sehingga ada harapan pembalikan tren menjadi Foreign Inflow di awal tahun 2020).

Selain dilihat dari Foreign Flow, indikator lain yang bersifat Trend Following pun mengindikasikan hal yang positif pada IHSG.

Menggunakan indikator Ichimoku Kinko Hyo, IHSG sudah mulai berada di dalam Red Cloud setelah sejak awal tahun 2020 berada di bawah Cloud. Bahkan di awal Juni, IHSG sempat Breakout dan berada di atas Red Cloud. Meski kembali turun di dalam Red Cloud, IHSG masih membentuk Green Cloud yang mengindikasikan ada potensi Bullish dalam waktu dekat.

Menggunakan Moving Average 20, 60 dan 200, saat ini IHSG berada di atas MA20 dan MA60. Selain itu, MA20 pun sudah berada di atas MA60 yang mengindikasikan telah terjadi Golden Cross (pada awal Juni 2020). Indikator jangka panjang pilihan The Primary Trader yaitu selisih antara MA60 dengan MA200 menunjukkan Flat (sejak akhir Mei 2020). Hal ini menunjukkan peluang tren Bearish sudah berkurang. Worst Case Scenario untuk IHSG adalah bahwa IHSG bergerak Flat.

Semoga.

Menunggu Stimulus Dari Pemerintah AS

Investor sedang menunggu pengumuman stimulus yang sedang disiapkan oleh Pemerintah AS. Dikabarkan rencananya adalah sebesar USD2 triliun, lebih tinggi dari estimasi awal sebesar ~USD1 triliun. Diharapkan minggu depan akan ada pengumuman dan tentu stimulus ini diharapkan dapat mempercepat penganggulangan wabah Corona (di AS) dan mengurangi dampak negatif wabah terhadap ekonomi AS yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekonomi global.

The Primary Trader melihat Investor tampak optimis terhadap stimulus tersebut karena menjelang akhir pekan, VIX Index tampaknya turun di bawah 72 atau di bawah Up Trendline yang dapat membawa VIX naik menyentuh level yang sama seperti pada saat krisis 2008 (Global Financial Crisis).

Live Chart Here

Penurunan VIX mengindikasikan Investor melihat penurunan risiko pada pasar keuangan. Namun perlu diingat bahwa Bear Market yang terjadi saat ini disebabkan oleh virus Corona sehingga selama wabah dan penyakit tersebut belum dapat dikendalikan maka Bear Market masih dapat bertahan.

Babak Baru Perlawanan Terhadap Covid-19

Stimulus Fiskal Sebagai Harapan Untuk Bursa Saham AS

Investor kembali optimis setelah ada harapan Pemerintah AS memberikan stimulus setelah ada kesepakatan antara Pemerintah dan DPR. Saat ini rencana stimulus akan dibawa ke Senat untuk disetujui. Stimulus Fiskal tersebut diperlukan untuk menangani wabah Corona serta untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap ekonomi AS.

S&P500 langsung mencatat (salah satu) kenaikan terbaik sebesas 9.3% dalam satu hari tersebut. Namun The Primary Trader melihat kenaikan S&P500 tersebut belumlah mengindikasikan akhir dari Downtrend yang terjadi sejak akhir Februari 2020. Seperti kenaikan pada awal Maret 2020 (dari ~2,800 ke ~2,890), belum ada indikasi yang cukup bahwa S&P500 dapat membatalkan Downtrend.

Pada awal Maret 2020 tersebut, S&P500 harus Breakout Resistance di ~2,900 untuk dapat membatalkan Downtrend. Oleh karena itu, Downtrend masih intact dan S&P500 kembali turun. Disaat S&P500 mencatat kenaikan sebesar 9.3% dalam satu hari, S&P%500 masih belum mampu Breakout Resistance yang diperlukan untuk membatalkan Downtrend yaitu di ~2,750.

Oleh karena itu, The Primary Trader masih menunggu S&P500 Breakout 2,750 yang membuka peluang untuk membatalkan Downtrend di minggu depan. Sampai saat ini, The Primary Trader masih melihat wabah Corona masih menjadi sentimen negatif yang belum akan selesai selama obat dan atau vaksinnya ditemukan.

VIX Masih Tinggi Tanda Investor Masih Khawatir

Meski wabah Corona belum akan selesai namun Investor tampaknya mulai melihat risiko pasar yang terjadi sedikit mereda dengan adanya paket stimulus fiskal dari AS. VIX menunjukkan penurunan meskipun sempat menyentuh level 80. Level VIX pada Global Financial Crisis (GCF) ada di 96.4 sehingga hanya tinggal 16 poin lagi maka Investor menganggap kondisi saat ini sama gentingnya dengan kondisi pada GFC 2008 lalu.

Penurunan kekhawatiran Investor akan kondisi pasar (yang ditunjukan dengan penurunan VIX) cukup penting mengingat baru – baru ini tampaknya Investor merasa sangat khawatir sehingga memilih Hoarding Cash (USD Index telah menguat ~4% dalam seminggu terakhir) instead of membeli Safe Heaven.

Jual Emas (Safe Heaven), Pegang (Hoarding) Kas

Harga emas saat ini turun dan terancam membatalkan Uptrend yang telah terjadi sejak awal tahun 2019. Emas perlu bertahan di atas USD1,550 untuk mempertahankan Uptrend menuju USD1,800. Breakdown valid di USD1,550 akan mengancam emas turun menuju USD1,370.

Penurunan harga emas adalah salah satu indikasi Investor tidak yakin akan adanya inflasi. Hal ini karena selama ini emas digunakan untuk Hedge Against Inflation. Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi maka Investor mengincar emas sejak tahun 2018. Tentu harga emas juga naik karena antisipasi adanya perang (dimana pada saat perang, hanya aset emas yang dinilai berharga). Namun tampaknya Investor menganggap kondisi saat ini relatif aman setelah sempat dikhawatirkan terjadi perang AS – Iran di awal tahun 2020 (saat ini harga emas naik 6% di minggu pertama tahun 2020).

Menunggu Aksi Bank Sentral

Minggu depan akan ada jadwal FOMC Meeting The Fed dan RDG Bank Indonesia. Diestimasikan The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.75% dari 1.25% menjadi 0.5%. Sementara diestimasikan BI memotong 0.5% dari 4.75% menjadi 4.25%.

Perlu diingat bahwa BI telah menurunkan 0.25% pada bulan Februari dari 5% menjadi 4.75% – lebih cepat dari estimasi karena sebelumnya BI diperkirakan akan menunggu The Fed memotong suku bunganya. Kejadian diluar estimasi kembali terjadi dimana pada awal Maret 2020, The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% dari 1.75% menjadi 1.25%. Cukup jarang The Fed melakukan Cut Rate di luar FOMC Meeting dan Emergency Cut Rate The Fed terakhir adalah pada tahun 2008 lalu (saat Global Financial Crisis).

rbc

Apabila melihat respon dari The Fed (dan bank sentral lainnya), tentu Investor berpikir bahwa dampak wabah Corona terhadap ekonomi global cukup signifikan.

Bantuan Emiten + Dapen + Asuransi Untuk IHSG

Minggu lalu, secara resmi otoritas mengizinkan emiten buyback sahamnya sendiri tanpa persetujuan pemegang saham. Hal ini karena terjadi penurunan harga saham yang dalam tanpa disebabkan penurunan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, banyak emiten yang sudah bersiap untuk buyback namun tampaknya baru terlihat terjadi pada Jum’at 13 Maret 2020. Hari itu, IHSG turun -5% dan memicu penghentian transaksi di awal sesi 1. Namun pada sesi 2, ada lonjakan sebesar 6% dimana tampaknya merupakan Investor Domestik.

Meski terlihat positif, The Primary Trader melihat kenaikan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren yang sedang terjadi pada IHSG yaitu Downtrend.

The Primary Trader tidak heran bila IHSG menyentuh level ~4,700. Hal ini karena melihat pada akhir tahun 2015 dimana IHSG dapat turun dan mencapai ~23% di bawah MA200. Saat ini IHSG sudah mendekati ~25% di bawah MA200 dan memang ada indikasi IHSG sudah Bottoming – bila mengaca pada kondisi tahun 2015 tersebut. Memang pada kasus ekstrim seperti GFC 2008, IHSG pernah -105% di bawah MA200 dan tentu The Primary Trader yakin kondisi tersebut tidak akan tercapai di tahun 2020 karena wabah Corona ini.

Meskipun Investor Lokal + Emiten sedang melakukan Buyback untuk menyelamatkan IHSG, The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat segera naik. Hal ini karena IHSG perlu dana asing dari Investor Asing untuk naik. Tren Net Sell Asing masih terus terjadi di tahun 2020 dan begitupun sepanjang Maret 2020. Hal ini yang akan menyulitkan IHSG untuk naik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa Net Sell Asing yang masif tersebut membuat IHSG saat ini Under Owned Asing. Hal ini dapat memperkecil peluang IHSG kembali turun lebih dalam. Tentu karena tidak ada lagi Seller yang masih memiliki saham – saham IHSG dalam jumlah yang signifikan sehingga ketika Seller tersebut menjualnya maka tercipta penurunan harga.

Kapan IHSG Dapat Naik?

The Primary Trader menilai bahwa masalah saat ini adalah adanya wabah penyakit. Oleh karena itu tentu untuk menyelesaikan masalah maka wabah penyakitnya harus dihilangkan dengan adanya obat penyembuh sekaligus vaksin untuk menghindari penyakitnya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat digunakan secara luas dan aman. Diperkirakan baru akan tersedia di tahun 2020. Namun demikian, setidaknya penyakit tersebut dapat ditekan penyebarannya sehingga kondisi Pandemi dapat hilang.

Wabah Corona di China sudah mulai berkurang. Banyak pasien yang sudah sembuh dan bahkan ~13 RS Darurat sudah ditutup karena tidak ada pasien baru lagi yang membutuhkan RS tersebut.

Tantangannya adalah negara – negara lain karena saat ini penyebaran Corona ada di wilayah Eropa. Perlu diingat bahwa ekonomi Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara di Eropa) adalah ekonomi terbesar kedua di Dunia (lebih besar dari China). Bila ekonomi Uni Eropa menurun akibat wabah Corona maka tentu ekonomi global akan semakin tertekan.

Wabah Corona secara global masih dalam tren meningkat namun penyebaran di negara – negara setelah China seperti Korea Selatan dan Iran sudah mulai terlihat puncaknya. Diharapkan kedua negara tersebut segera pulih dan kasus baru terus menurun. The Primary Trader pun berharap negara Italia, Perancis dan Spanyol sudah mendekati puncak sehingga dalam waktu dekat akan terjadi tren penurunan kasus (tentu dengan pasien sembuh yang lebih banyak).

Investor domestik sedang memantau perkembangan kasus Corona di Indonesia. Per 15 Maret 2020, ada 117 pasien yang positif Corona di Indonesia. Sampai 14 Maret 2020, sudah ada 8 pasien yang sembuh dan dipulangkan sementara 5 pasien meninggal dunia. Bila melihat persentasenya, tingkat kematian Corona di Indonesia tampaknya tinggi (8 / 117 = 6.8%. Perlu diingat bahwa pasien yang terdeteksi positif tersebut baru mulai terjadi di awal Maret 2020. Dengan demikian, perawatan para pasien baru memasuki minggu ke-2. Mengaca pada kasus China, mulai terjadi peningkatan pasien yang dipulangkan dari RS pada pertengahan Februari 2020. Dengan demikian, setidaknya perlu 3-4 minggu untuk dirawat di RS. The Primary Trader berharap pasien yang dipulangkan mulai akan meningkat pada akhir Maret 2020 atau awal April 2020.

Pada saatnya nanti mulai terlihat penurunan kasus Corona, The Primary Trader yakin minat beli akan mulai muncul. Dengan demikian, harapan akan kenaikan IHSG mulai membesar. Untuk saat ini, The Primary Trader perkirakan sebagus apapun stimulus fiskal dan moneter masih belum akan mampu membalikkan tren IHSG dari Downtrend menjadi Uptrend.

Ada banyak Resistance – Resistance baik dari Down Trendline maupun dari Gap Down yang menahan IHSG untuk mengawali Uptrend. Resistance terpenting tentu adalah 5,700 yang merupakan Down Trendline dari sejak pertengahan Januari 2020 serta Lower High terakhir dari penurunan sejak pertengahan Januari tersebut. Resistance berikut adalah dari Gap Down yaitu di level 5,050 – 5,110 serta 5,360 – 5,500.

The Primary Trader sedang bersiap – siap untuk membeli saham karena memang sudah sangat murah sekali. Namun tentu dengan strategi Averaging Down karena saat ini sangat sulit sekali memperkirakan Bottom. Kenapa? Karena ketika terjadi sesuatu yang menakutkan maka Panic Selling akan terjadi dan saat ini, rasionalitas sudah berkurang.

Semoga wabah Corona segera berakhir dan masyarakat Indonesia (serta dunia) segera sehat dan aman.

Stimulus Fiskal Sebagai Penyelamat (Bila Dilaksanakan)

Investor mulai terlihat optimis setelah Presiden AS berencana untuk memberikan stimulus fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan. Namun ternyata dalam satu malam, rencana tersebut ditunda. Hal ini mungkin akan membuat Investor kembali khawatir. Beberapa pihak pun memperkirakan pemotongan pajak penghasilan belum mampu membalikkan kekhawatiran akan wabah Covid-19.

Saat ini penyebaran wabah Covid-19 mulai melebar ke negara Eropa. Penyebaran di Korea Selatan dan Iran mungkin sudah mulai mereda namun penyebaran di Italia masih tinggi dan Perancis serta Spanyol mulai meningkat. Beberapa pejabat penting negara seperti Menteri Kesehatan Inggris, Jendral Polandia dan bahkan pejabat White House (yang sebelum dites positif Corona sempat berinteraksi dengan Presiden Trump).

Kekhawatiran Investor pandemik Covid-19 masih berlangsung membuat Investor memperkirakan resesi global akan terjadi. Index VIX mulai melewati level 50 yang merupakan “peak” dari beberapa kejadian kritis. Dengan melewati level 50, index VIX sepertinya menuju level 90 – 100 yang menyamai risiko pada waktu Global Financial Crisis 2008.

Kekhawatiran Investor memicu Panic Buying pada Safe Heaven, salah satunya adalah US Treasury dimana Yield US Treasury 10Yr terus turun dan sempat menyentuh 0.36%. Seperti halnya Ekonom dan Analis, The Primary Trader perkirakan tidak lama lagi Yield US Treasury 10Yr dapat berada di Negative Yield.

Saat ini Negative Yield terjadi pada obligasi negara Jepang, Jerman dan Perancis. Tampaknya Yield ketiga negara tersebut masih akan stabil berada di zona negatif dan negara AS akan segera ikut setelah Yield US Treasury 10Yr turun tajam dari sejak akhir Februari 2020.

The Primary Trader yakin kondisi saat ini hanya bisa dihadapi dengan ditemukannya obat Covid-19 yang dapat digunakan untuk menyembuhkan. Stimulus Moneter maupun Fiskal mungkin dapat menolong sementara namun data positif tersebut baru akan terlihat dalam 3 – 6 bulan ke depan pada data ekonomi maupun data laporan keuangan emiten. Sentimen positif yang akan membuat Investor kembali membeli pasar saham dan Risky Asset lainnya adalah ketika obat Covid-19 mulai dijual umum.

Berita bagusnya adalah hasil google search pagi ini (11 Maret 2020 pukul 08.13 WIB) menunjukkan hal yang positif sebagai berikut :

Akhir Atau Awal ?

Menjelang Akhir Dari Wabah Covid-19 di China

China melaporkan kenaikan pasien yang sembuh dan dipulangkan dari RS sejak akhir Februari 2020. Setelah itu, pasien baru yang dilaporkan terinfeksi mulai berkurang sehingga total pasien yang terinfeksi mulai stagnan di akhir Februari 2020 menjelang awal Maret 2020. Ada harapan wabah Covid-19 di China mulai mereda. Bahkan salah satu RS di China yang khusus menangani Covid-19 telah ditutup karena jumlah pasien baru turun drastis.

Namun ternyata, penyebaran Covid-19 di seluruh dunia mulai terlihat meningkat. Di Indonesia sendiri dilaporkan kasus pertama pada 2 pasien yang positif terkena infeksi Covid-19. AS melaporkan total ada 9 pasien meninggal dari 105 pasien yang positif terinfeksi. Tampaknya ada potensi pandemik meski WHO belum mengumumkan hal tersebut.

Emergency Cut Rate oleh The Fed

The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% menjadi 1.25% karena melihat wabah Covid-19 dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi AS yang saat ini (menurut The Fed) masih terjaga baik. Oleh karena itu sebagai bagian dari antisipasi, The Fed memotong suku bunga di luar jadwal FOMC Meeting (dimana rencananya diadakan pada 19 Maret 2020, bersamaan dengan Rapat Dewan Gubernur BI).

United States Fed Funds Rate

Keputusan The Fed memotong suku bunga di awal Maret 2020 sejalan dengan estimasi Investor bahwa bank sentral lain (seperti ECB, BOJ dan BOE) akan ikut menurunkan suku bunga acuan pada jadwal rapat masing – masing. The Primary Trader perkirakan pada pertengahan Maret 2020 akan semakin tinggi aksi spekulasi Investor (menjelang pengumuman ECB dan BOJ).


Dampak langsung dari pemotongan suku bunga adalah penurunan Yield obligasi. Saat ini Yield UST 10Yr sudah di level 1%. Sejak bulan Februari 2020, Yield UST 10Yr berada di level terendah sepanjang sejarah dan The Primary Trader perkirakan sangat mungkin Yield UST 10Yr berada di area negatif mengikuti Yield negara besar lainnya.

VIX Memuncak – Tanda Berakhir (?)

Melihat reaksi bank sentral yang relatif cepat dan pemerintah yang juga responsif (saat ini pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan stimulus kedua), The Primary Trader meyakini dampak negatif dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia dapat diminimalisir. Pada akhirnya wabah Covid-19 hanya dapat diselesaikan oleh pihak medis dan diharapkan dapat segera ditemukan dan disebarluaskan obat serta vaksin Covid-19. Setidaknya sudah ada 3 obat yang berpotensi digunakan untuk terapi antara lain obat anti-HIV dan anti Malaria.

The Primary Trader melihat kembali indeks VIX yang sudah mencapai level 50an. Level tersebut adalah level Resistance yang mengindikasikan risiko tertinggi diluar dari Global Finance Crisis (yang dapat mengangkat VIX mendekati level 100). Setelah VIX mendekati 50 tentu akhirnya VIX kembali ke level normal yaitu di 20 – 30.

The Primary Trader optimis memasuki bulan April 2020 atau 2Q20, kondisi keuangan akan relatif membaik dan diharapkan wabah Covid-19 dapat terkendali.

Penentuan Awal

Dua (Potensi) Bottom Untuk IHSG

The Primary Trader melihat ada harapan IHSG berhenti turun di 5,450 karena posisi IHSG di level tersebut berada pada 12% di bawah MA200 atau rata – rata tahunan. Sejak tahun 2011, posisi IHSG 12% di bawah MA200 mengindikasikan tingkat Jenuh Jual atau Oversold yang pada akhirnya membuat IHSG kembali naik mendekati atau bahkan melewati MA200.

Namun pada tahun 2015 akhir, IHSG ternyata terus turun dan mencapai level 23% di bawah MA200. Ada harapan IHSG bertahan di 5,450 karena kecenderungan IHSG yang Oversold pada posisi 12% di bawah MA200 (dimana saat ini MA200 di 6,186 maka 88% dari level tersebut adalah ~5,450). Namun mengingat kondisi saat ini dapat dikatakan sudah dalam keadaan Panic Selling maka The Primary Trader tidak heran bila IHSG terus turun mendekati level 23% di bawah MA200 yaitu di 4,770.

The Primary Trader perkirakan pada hari Senin, 2 Maret 2020, akan menjadi penentu apakah IHSG bertahan di 5,450 atau kembali “Stretch” ke 4,770.

Manufacturing PMI Menjadi Kunci Utama

China, Indonesia dan AS dijadwalkan mengumumkan Manufacturing PMI bulan Februari 2020 pada Senin, 2 Maret 2020. Manufacturing PMI adalah salah satu indikator ekonomi utama untuk mengestimasikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Manufacturing PMI menunjukkan aktifitas sektor manufaktur (pabrik) dan angka indeks Manufacturing PMI di atas 50 menunjukkan potensi ekonomi berekspansi dan di bawah 50 menunjukkan potensi ekonomi berkontraksi.

Ekonom memperkirakan Manufacturing PMI China di bulan Februari 2020 turun di level 46.1 dari 51.1 di bulan Januari 2020. Bila indeks tersebut di bawah 50 maka ada potensi ekonomi China berkontraksi.

Kontraksi ekonomi China inilah yang menjadi kekhawatiran Investor Global karena saat ini ekonomi China hampir mencapai 20% dari ekonomi dunia. Bila ekonomi China kembali turun maka ekonomi dunia pun akan ikut turun.

Di satu sisi, ekonomi AS di tahun 2020 cukup baik. Bahkan The Fed terdengar yakin akan mempertahankan Fed Fund Rate di saat bank sentral lain (termasuk BI) menurunkan suku bunga dalam menghadapi dampak negatif ekonomi karena wabah Corona. Tentu pernyataan tersebut dapat terganggu mengingat minggu ini AS mengumumkan 15 kasus infeksi Corona yang tidak diketahui asalnya (!). Namun data Manufacturing PMI AS pada Senin, 2 Maret 2020, tentu akan menjadi pertimbangan awal bagi Investor maupun The Fed dalam menilai dampak wabah Corona terkini.

Kembali ke China, ada harapan data Manufacturing PMI bulan Februari 2020 tidak turun sejauh 46.1 dari 51.1. Hal ini karena pabrik – pabrik di Hubei (provinsi dimana Wuhan berada) sudah mulai kembali beraktifitas dipertengahan Februari. Menjelang akhir Februari 2020, kapasitas pabrik sudah berjalan 30% – 50% dan ditargetkan berjalan 70% di awal Maret 2020. Dan tentu meskipun China menyumbang ekonomi dunia sebesar ~20%, ekonomi provinsi Hubei sendiri hanya mencapai 4.6% dari total GDP China sehingga gangguan terhadap keseluruhan ekonomi China diharapkan tidak sebesar penurunan Manufacturing PMI tersebut.

Sejak Juli 2019, Manufacturing PMI Indonesia di bawah 50 sehingga menandakan ekonomi sedang berkontraksi. Meski demikian, Manufacturing PMI Indonesia sebenarnya mulai naik sejak Oktober 2019 namun sedikit turun di Januari 2020 akibat banjir di awal tahun dan dampak awal wabah Corona. The Primary Trader melihat bila nanti Manufacturing PMI Indonesia tidak lebih rendah dari posisi di bulan Oktober 2019 di level 47.5 maka dapat disimpulkan dampak wabah Corona di Indonesia tidak separah di negara – negara lain. Seharusnya hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk tidak turun menuju 4,770.

Indonesia Manufacturing PMI

Sentimen Bullish Dari Candlestick Pada IHSG

IHSG membentuk pola single candle dari Candlestick yaitu Hammer. Menariknya, Hammer terbentuk di Fibonacci Extension level 261.8% sehingga dapat diharapkan indikasi untuk naik. Meskipun ada indikasi naik namun pertanyaan pentingnya adalah apakah kenaikan yang ada adalah sebagai Technical Rebound saja atau akan ada perubahan dari Downtrend saat ini menjadi Uptrend. The Primary Trader perkirakan kenaikan yang terjadi (bila kondisi mendukung, antara lain Manufacturing PMI yang tidak seburuk perkiraan) adalah sebagai Tech. Rebound saja dengan kenaikan tidak lebih tinggi dari 5,700 (level Fibonacci Extension di 161.8%).

Investor Global Masih Panik

The Primary Trader melihat VIX Index dan menyimpulkan bahwa Investor global masih dalam Panic Mode sehingga tampaknya Downtrend masih akan berlanjut. Saat ini VIX berada di level 40 atau lebih yang sama yang terjadi pada setiap Bearish Market.

Beberapa kali kejdian dimana VIX berada di level 40 yaitu pada Downtrend S&P500 di 2H11, 3Q15, 1Q18 dan 1Q19. Meski demikian, Downtrend pada waktu – waktu tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Correction di tengah Uptrend Jangka Panjang. Dengan demikian, S&P500 masih dapat diharapkan terus mempertahankan Uptrend Jangka Panjang-nya.

S&P500 mungkin sudah mendekati Support di 2,800 dan terlihat membentuk Hammer sehinggga dapat diharapkan terjadi kenaikan. The Primary Trader masih perkirakan kenaikan tersebut (bila naik) adalah sebagai Tech. Rebound dan masih dapat naik sampai mendekati 3,100. S&P500 telah Breakdown Up Trendline di 3,300 pada pertengahan Februari 2020 dan hal tersebut menjadi tanda Downtrend Jangka Pendek – Menengah (sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang).

Investor di China sendiri sebenarnya terlihat optimis tidak lama setelah bursa dibuka (paska libur Chinese New Year yang diperpanjang). Memang Shanghai Composite sempat turun ~9% dihari pertama perdagangan paska ditutup pada awal wabah Corona. Namun setelah itu, Shcomp berhasil naik mendekati level sebelum wabah Corona (naik dari level 2,800 ke level 3,080). Ternyata Shcomp terlihat gagal naik di atas 3,080 – 3,120 sehingga The Primary Trader perkirakan tren harga Shcomp masih Downtrend dan Shcomp berpotensi turun menuju level 2,400 dengan Breakdown Support 2,730.

The Primary Trader meyakini di tahun 2020 ini, wabah Corona akan berakhir setelah penyebaran penyakit dapat diatasi dan obat serta vaksin sudah dapat diproduksi (meski masih dalam tahap awal). Namun dampak ekonomi akibat pembatasan aktifitas masyarakat akan terasa di tahun 2020 dan cukup signifikan. Bank sentral serta pemerintah akan mengeluarkan stimulus moneter maupun fiskal dimana hal tersebut akan berdampak positif langsung pada obligasi (di tahun 2020 ini). Namun demikian, dampak positif pada pasar saham kemungkinan baru akan terlihat di 2H20 atau bahkan di tahun 2021 nanti.

Sebelum berbicara pergerakan jangka panjang IHSG dan bursa saham lain, tentu data di hari Senin, 2 Maret 2020 berpotensi menjadi penentu awal yang signifikan.

Pendemik Corona Yang Mulai Membuat Panin Secara Global

Semakin Menyebar

Meskipun China terlihat berhasil membatasi penyebaran Corona dari sumber Wuhan, ternyata kasus Corona di berbagai negara terus bertambah. Tidak lama setelah Korea Selatan menyatakan darurat di pekan lalu, Italia mencatat peningkatan kasus infeksi.

Virus Corona relatif tidak mematikan namun penyebarannya sangat kuat sehingga menjadi kekhawatiran masyarakat global. Terlebih lagi virus ini memberi dampak pengurangan aktifitas termasuk aktifitas bisnis di China yang saat ini menyumbang 18% terhadap ekonomi global (dibandinkan tahun 2003 pada kasus SARS dimana ekonomi China 7% – 8% dari ekonomi global).

S&P500 Breakdown Up Trendline

S&P500 yang sebelumnya cukup kebal dan berhasil Recovery pada puncak virus Corona di akhir Januari 2020 akhirnya terlihat “menyerah”. S&P500 Breakdown Up Trendline sehingga mengancam Uptrend menuju 3,500. Ada ancaman S&P500 turun menuju 3,000 sebagai bagian dari awal Downtrend. Meski demikian, masih ada harapan penurunan S&P500 mendekati 3,000 tersebut sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang (yang juga bisa dilihat sebagai Downtrend Jangka Pendek).

Penurunan S&P500 sebagai bagian dari kepanikan Investor terlihat dari VIX yang melonjak melewati level 24 yang menjadi Resistance kuat sejak awal tahun 2019. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Investor terhadap virus Corona itu sendiri yang menyebar dan juga kekhawatiran perlambatan ekonomi yang signifikan karena dampak Corona.

Selain itu, melihat Yield Spread antara Yield US Treasury 10 Tahun dengan 2 Tahun, mulai kembali terlihat potensi Negative Spread yang artinya Yield US2Yr lebih tinggi dari Yield US10Yr. Negative Spread selama ini (sejak tahun 1980an) menandakan adanya resesi di AS.

Saat ini Spread antara Yield US10Yr dengan US2Yr masih sebesar 0.15%. Namun seiring dengan S&P500 sudah Breakdown Up Trendline dan terancam Downtrend, hal ini menandakan potensi Investor swithing dari Equity Market ke Bond Market yang lebih aman. Switching tersebut berpotensi terus menurunkan Yield US Treasury dan membuat Negative Spread bila Investor lebih banyak membeli Yield US10Yr sebagai antisipasi resesi.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

IHSG telah Breakdown Fibonacci Extension di 127.2% atau di 5,831 sehingga kemungkinan besar saat ini IHSG sedang dalam penurunan menuju 5,700an atau di 161.8%.

Secara historis, IHSG memiliki dua Support yaitu di 5,770 yang merupakan Lowest di tahun 2019 dan 5,600 yang merupakan Bottom (Sideways) terpanjang sepanjang sejarah IHSG atau sekitar 8 bulan di tahun 2018. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai Bottoming di level 5,600 – 5,700.

Mulai Stabil Tapi Belum Selesai

Mulai Tenang

The Primary Trader melihat index VIX yang sempat naik di akhir Januari 2020 dari level 12 ke 20 (pada awal wabah Corona). Namun ternyata VIX tetap tidak naik di atas level 20 yang merupakan Resistance sejak Oktober 2019. Hal ini menandakan kekhawatiran Investor tidak berlarut. Selain karena wabah Corona dapat dikendalikan (dengan baik) oleh Pemerintah China, ilmuwan sudah berhasil menemukan obat dan vaksin meskipun harus melalui masa uji keamanan.

Bursa Shanghai (Shcomp) sendiri sejak di buka pertama kali setelah wabah Corona telah naik sebesar 7%. Memang pada waktu dibuka, Shcomp sempat turun -9% akan tetap sejak saat itu, Shcomp terus naik sebesar 7%. Saat ini Shcomp sedang menguji Resistance di 2,900an namun The Primary Trader perkirakan Shcomp masih belum akan berhasil Breakout untuk menguji Resistance penting berikutnya di 3,000.

The Primary Trader perkirakan Investor China masih ingin melihat dampak negatif dari wabah Corona terhadap ekonomi China. Selain itu, tampaknya Investor masih ingin melihat stimulus dan aksi pemerintah China untuk melawan ancaman penurunan ekonomi China karena terganggunya aktiftas bisnis di China. Meski demikian, The Primary Trader yakin Shcomp akan sulit untuk turun di bawah Support kuat 2,700 dan peluang turun menuju 2,400 relatif kecil.

IHSG Masih Terancam

The Primary Trader belum melihat awal pembentukan Bottom dari penurunan IHSG sejak Januari 2020. Oleh karena itu, ada potensi IHSG masih kembali turun menuju 5,600 – 5,700.

Memang terlihat bahwa Net Sell Asing mulai berkurang. Terlihat bahwa Net Akumulasi Asing di 2 bulan pertama 2020 tidak lebih turun dibanding Desember 2019 lalu. Namun belum terlihat Tren Net Sell Asing berkurang sehingga menurut The Primary Trader, hal tersebut perlu diwaspadai.

Pasar Obligasi Masih Menarik

Di saat IHSG masih kurang menarik, pasar obligasi – dilihat dari Yield SUN10Yr masih sangat menarik. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend sejak Oktober 2018 dan bahkan dimulai dari Desember 2019, Downtrend semakin kuat karena terlihat sudut penurunan semakin tajam. Dari 20 derajat (Oktober 2018 – Desember 2019) menjadi 49 derajat (mulai dari Desember 2019). Perlu diketahui bahwa tren dengan ~45 derajat menunjukkan tren yang kuat dan stabil. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan Yield masih dapat turun menuju 5.9% dengan Breakout Support saat ini di 6.5%.

Investor tampaknya menganggap Indonesia semakin menarik setelah memasuki periode ke-2 Presiden Jokowi. Selain karena harapan reformasi perlahan mulai terlihat (dari aksi Menteri – Menteri Indonesia Maju seperti Menteri BUMN Erick Thohir), pemerintah pun sudah menyelesaikan draf RUU Cipta Kerja ke DPR dimingu kedua Februari 2020. Meski masih kontroversi namun The Primary Trader melihat RUU tersebut dapat mendorong investasi.

Yield SUN10Yr telah memberikan Return yang sangat menarik dibandingkan IHSG – sejak awal tahun 2019. Memang sesuai dengan teori dasar, pergerakan Yield Obligasi berbanding terbalik dengan IHSG. Bila Yield turun maka IHSG naik dan sebaliknya bila Yield naik maka IHSG turun. Secara teori, hal ini berarti harga Obligasi dan Saham bergerak bersamaan. Kenaikan harga Obligasi berarti penurunan Yield Obligasi.

Bila memang saat ini pasar obligasi masih menarik maka The Primary Trader berpikir bahwa di tahun 2020 ini adalah tahun akhir dari sebuah siklus “Hard Landing” dan di awal siklus “Soft Landing” (lihat Asset Allocation Clock dari Merril Lynch). Diperlukan Rate Cuts untuk berpindah siklus menuju “Recovery”.

Image result for investment asset cycle

The Primary Trader meyakini BI akan kembali menurunkan BI 7DRR Rate di tahun 2020 – setelah atau sebelum The Fed menurunkan Fed Fund Rate. Ekonomi Indonesia berpotensi kembali turun karena wabah Corona ini sehingga BI seharusnya kembali melakukan stimulus moneter.

DEAL ! S&P500 Tetap Uptrend, Begitupun Dengan IHSG.

Trade Deal Fase 1

Presiden AS dan Wakil Presiden China menandatangani Trade Deal fase 1. China berjanji akan membeli barang – barang AS sebanyak total US$200 miliar dalam 2 tahun ke depan. AS berjanji tidak menaikkan tarif terhadap barang – barang China lagi. Namun AS belum akan menurunkan tarif sampai Pemilu di November 2020.

Menurut The Primary Trader, Trade Deal fase 1 ini sudah cukup untuk memberikan sentimen positif di 1Q20. Sentimen berikutnya akan muncul dari data ekonomi serta laporan keuangan emiten AS dan China di 1Q20 yang baru akan dirilis pada April 2020. Meskipun untuk saat ini sudah cukup, tampaknya masih ada Investor dan Pelaku Bisnis yang pesimis signifikansi Trade Deal ini.

Uptrend Pada Bursa AS

S&P500 telah mencapai target menggunakan Fibonacci Retracement dari level 2,940 di Oktober 2018 sampai 2,350 di Desember 2018 yaitu di 3,300 atau 1,618 (161,8%) dari Fibonacci. Masih ada target berikut yaitu di 200% di 3,530an.

The Primary Trader meyakini Uptrend S&P500 masih bertahan namun mungkin akan sulit sampai ke level 3,500an. Investor mulai mengkhawatirkan valuasi S&P500 yang sudah Overvalued. Meskipun kenaikan S&P500 sekarang ini disebabkan sentimen positif karena Trade Deal fase 1, The Primary Trader perkirakan S&P500 akan mulai mengalami momentum penurunan setelah mendekati atau menyentuh 3,400.

Melihat bursa AS lain yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Dow Jones Transportational Average (DJTA), The Primary Trader melihat Uptrend di pasar saham AS memang sehat.

DJIA masih dalam Uptrend menuju 30,300 – yang merupakan target dari Fibonacci Retracement di 1,618 atau 161,8%. Target ini diperoleh dari level 27,000 di Oktober 2018 sampai 21,700 di Desember 2018 (pergerakan yang sama dengan S&P500).

Menggunakan Dow Theory yang mengatakan “Average Must Confirm Each Other”, The Primary Trader melihat DJTA – saudar kembar DJIA.

DJTA memang belum dalam All Time High seperti DJIA dan S&P500. Namun saat ini DJTA sudah Breakout level tertinggi dari sejak September 2018. The Primary Trader meyakini DJTA mampu melewati All Time High di 11,623 seperti halnya DJIA dan S&P500. Dengan potensi DJTA membentuk New All Time High maka Uptrend di pasar saham AS terkonfirmasi. Meski demikian, hal tersebut bukan jaminan Uptrend di pasar saham AS masih dapat berlangsung dalam jangka menengah atau panjang.

VIX Index sebagai indeks persepsi risiko di AS memang kembali di level rendah. Namun The Primary Trader melihat kenaikan yang terjadi berikut pada VIX akan membuka peluang VIX terus naik sampai level tertinggi dalam satu tahun terakhir di 22 – 24. Level ini tercapai ketika Investor mengkhawatirkan eskalasi Trade War dan ancaman kenaikan Fed Fund Rate.

Ancaman di tahun 2020 yang mungkin meningkatkan VIX Index adalah gagalnya Trade Deal fase 1 (karena mungkin China tidak menepati janji untuk membeli produk AS), eskalasi tensi AS – Iran serta pemakzulan Trump.

Dampak Pada IHSG

The Primary Trader melihat IHSG masih mempertahankan minor Up Trendline dari awal Desember 2019 yang menjaga peluang IHSG naik menuju 6,450. Masih ada harapan kenaikan IHSG ini bagian dari January Effect.

Menggunakan indikator Stochastic Oscillator (yang telah The Primary Trader modifikasi), terlihat bahwa IHSG masih berpotensi mengalami penurunan namun Stoch. Oscillator sudah mendekati area Oversold. Oleh karena itu, penurunan yang mungkin terjadi seharusnya sudah terbatas.

Namun demikian, The Primary Trader melihat Stoch. Oscillator tersebut berpotensi segera melakukan Bullish Crossover atau memberikan sinyal Buy. Hal ini terlihat pada indikator Stoch. Oscillator Histogram dimana Histogram-nya yang saat ini berada di area negatif mulai mencatat kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan %K-line dari Stoch. Oscillator akan segera Crossover dengan %D-Line dan kemudian membuat kondisi dimana muncul sinyal Buy.

The Primary Trader yakin sentimen pada pasar saat ini adalah Bullish. Terlebih lagi apabila draf Omnibus Law jadi diselesaikan dalam 1-2 minggu ke depan (atau di bulan Januari 2020 ini).

Bullish or Bearish in 2020?

VIX Dalam Posisi Naik

VIX Index yang mengindikasikan volatilitas S&P500 dalam posisi naik yang berarti ada ancaman penurunan pada S&P500. VIX telah stabil di level rendah dari sejak akhir Okt’19 namun sejak awal Nov’19, ada indikasi VIX naik dari level 12 (Bottom) menuju Resistance terdekat di 20.

Perlu diingat bahwa VIX telah turun dari akhir Sept’19 dari level 20 karena ada harapan The Fed memastikan tren penurunan Fed Fund Rate dan adanya harapan Trade Deal AS – China. Di saat VIX mendarat di level 12an (yang mengindikasikan risiko pasar telah berkurang), The Fed memberikan pernyataan untuk mempertahankan Fed Fund Rate. Pada saat itu memang The Fed kembali menurunkan Fed Fund Rate dari 2% menjadi 1.75%. Namun Investor kecewa karena tidak ada Aggressive Cut Rate dan bahkan mungkin tidak ada lagi Cut Rate sampai ada indikasi ekonomi benar – benar memburuk.

The Primary Trader sudah tidak percaya harapan Trade Deal sampai AS dan China menandatangani Deal tersebut. Menjelang akhir Okt’19, masing – masing pihak mengklaim sudah mensepakati fase awal perdagangan. Keduanya bahkan sedang mencari lokasi pertemuan dan tanda tangan fase satu karena agenda pertemuan multilateral di Chili batal karena situasi keamanan di sana. Tentu dapat dimaklumi keengganan China untuk menandatangani perpanjian fase satu di AS. Belum sempat disepakati lokasi pertemuan, perjanjian dagang fase satu terancam batal dan baru – baru ini Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari China lebih besar lagi bila perjanjian fase satu ini batal. The Primary Trader rasa memang selama Trump menjabat sebagai Presiden AS, perang dagang AS dengan negara lain (setelah China, tampaknya genderang perang dagang dengan Uni Eropa akan dibunyikan).

S&P500 Dalam Throwback

Dampak utama dari kenaikan VIX adalah S&P500 terancam turun. S&P500 saat ini telah Breakout 3,000 (dan berada di All Time High) dan dalam Uptrend lanjutan menuju 3,300. Secara jangka pendek, S&P500 sendiri telah Overbought dan memang terancam turun sebagai Tech. Correction. Lebih khusus lagi, menurut The Primary Trader, Tech. Correction yang terjadi paska Breakout Resistance adalah Throwback. Fase Throwback wajar yang tidak membatalkan Uptrend adalah sampai level Resistance (saat ini Support) yang telah di-Breakout tersebut. Dalam hal ini, Throwback S&P500 seharusnya tidak sampai di bawah 3,000 agar S&P500 masih terindikasi valid Uptrend menuju 3,300.

Live chart di sini.

The Primary Trader melihat penurunan yang berpotensi terjadi adalah level yang tepat untuk melakukan Buy on Weakness (untuk saham – saham di AS). Tentu akan sedikit berbeda dengan saham di Indonesia.

Uptrend di Emas, Tanda Buruk di Perekonomian

Emas dapat dianggap sebagai Safe Heaven. Emas akan sangat berharga di saat aset lain tidak ada harganya. Dengan kata lain, menurut The Primary Trader, emas menjadi investasi yang sangat baik di saat kondisi buruk seperti perang atau resesi atau bahkan krisis.

Oleh karena itu, emas yang dalam kondisi Uptrend sejak akhir 2018 adalah tanda bahwa Investor mengkhawatirkan kondisi yang buruk sebagai akibat dari Trade War. Selain itu perlu diingat juga bahwa tahun 2018 adalah kondisi dimana The Fed mulai berpikir untuk menaikkan Fed Fund Rate (normalisasi).

The Primary Trader memperkirakan Uptrend emas belum berakhir meskipun terjadi penurunan dari sejak Sept’19. The Primary Trader melihat penurunan emas yang terjadi 3 bulan terakhir membentuk pola Bullish Continuation. Artinya adalah Uptrend emas yang telah dikonfirmasi setelah Breakout USD1,370 di Jun’19 masih akan berlanjut.

Emas berpotensi naik sampai USD1,700 paska Breakout USD1,370. Dengan demikian, setelah Bullish Continuation selesai, emas masih berpotensi naik sampai USD1,700. Pola Bullish Continuation yang terjadi sejak Sept’19 pun memiliki target dan target tersebut berada di USD1,800. All Time High emas ada di USD1,920an pada saat krisis hutang Yunani. Level USD1,800 menjadi Resistance penting karena beberapa kali emas berusaha terus naik namun gagal.

The Primary Trader percaya emas masih akan naik dan hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Investor mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang buruk (resesi ekonomi) di tahun 2020.

Strategi Investasi

Resesi ekonomi membuat investasi di saham tidaklah menarik. Namun tentu pada saat kondisi apapun telah terjadi, harga suatu aset sudah mencerminkan kondisi tersebut. Dengan demikian, pada saat Resesi benar terjadi di tahun 2020 maka harga aset (terutama saham) sudah turun dalam. Namun bila diperhatikan pergerakan S&P500 dan Yield Treasury US 10Yr, harga keduanya naik tinggi (!).

S&P500 berhasil naik sebesar 23% dari sejak awal tahun sementara Yield US Treasury 10Yr turun dari 2.68% menjadi 1.88%. Penurunan Yield berarti harga obligasi naik.

Live chart Yield US Treasury 10Yr di sini.

Memang perlu dikhawatirkan adanya resesi namun perlu juga dipertimbangkan resiko kehilangan kesempatan Uptrend.

The Primary Trader meyakini IHSG sedang di tahap akhir pola Bullish Continuation jangka panjang. Bila pola ini selesai dan terkonfirmasi maka IHSG akan mengawali Uptrend dalam jangka panjang dengan potensi menuju 8,000. Persyaratan untuk berharap IHSG Uptrend dan naik sebesar 30% dalam 3-5 tahun ke depan pun sudah ada yaitu antara lain dengan pembangunan infrastruktur di Jawa, perpindahan Ibukota yang menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, Kabinet Indonesia Maju (dengan Sri Mulyani kembali sebagai Menteri Keuangan), deregulasi serta proses awal industrialisasi yang bermodalkan komoditas dalam negeri.

Awal Uptrend jangka panjang IHSG adalah ditandai dengan Breakout 6,500. Hal ini merupakan tanda bahwa pola Bullish Continuation selesai dan terkonfirmasi. Oleh karena itu, The Primary Trader sedang menunggu (dan berharap) IHSG Breakout 6,500.

AJKSE - weekly 11/13/2019 open 6171.44, Hi 6183.83, LO 6127.88, Close 6142.5 (-0.6%) 
261.8% 
200.0% 
po.0% 
61.8 
50.0% 
38.2% 
www.theprimarytrader.com 
2019 
6,500 
7935.58 
7014.49 
6100 
5524.04 
4954.68 
4778.81 
4602.94 
2016 
AJKSE - Trade value (RP Mn) 
.00, 
2017 
Weekly Avg 
2018 
(Rp Mn) — 
, Monthly Avg 
8,000 
7,500 
7,000 
6,500 
6,000 
5,500 
5,000 
4,500 
700M 
481,464,: 
445,237,' 
300M 
Created Ami Broker 
charting ane technical analysis soft.vare. htt

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pola Bullish Continuation pun berpotensi batal – bila IHSG Breakdown Support. IHSG akan Breakdown Support pola Bullish Continuation bila turun di bawah 5,900. Artinya adalah bila IHSG turun di bawah 5,900 maka pola Bullish Continuation jangka panjang yang menjanjikan IHSG naik 30% menuju 8,000 dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi batal.

The Primary Trader akan mewaspadai bila dalam waktu dekat, IHSG turun di bawah 6,100.

Ikuti pergerakan live chart -nya di sini.