Melihat Rencana Indonesia Di Tahun 2021

Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan memberikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR / DPR pada 14 Agustus 2020. Seperti biasa, pada pidato ini, Presiden akan mengumumkan RUU tentang APBN tahun depan yaitu tahun 2021 yang tentunya akan sangat berubah dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya pandemi Covid-19 yang membuat banyak perubahan. Semua pemerintahan saat ini akan memikirkan 2 hal yaitu : 1) Kebijakan Countercylical untuk melawan ancaman resesi dan 2) Kebijakan penanganan kesehatan (penyediaan vaksin, obat – obatan, tenaga kesehatan). Dengan demikian, salah satu ciri khas pemerintahan Presiden Jokowi yaitu pembangunan infrastruktur kemungkinan akan berkurang di tahun 2021.

The Primary Trader ingin mencatat beberapa hal yang ingin didengar oleh Investor pada pidato tahun ini :

  • Anggaran Infrastruktur Tahun 2021
  • Anggaran Kesehatan Tahun 2021
  • Defisit APBN 2021
  • Kebijakan perpindahan Ibu Kota Negara (IKN)
  • Kelanjutan dari RUU Omnibus Law / Cipta Kerja
  • Rencana menarik Pelaku Bisnis yang ingin relokasi dari China

Pada 3Q20, Investor yang Forward Looking seharusnya sudah mulai meng-adjust dan men-discount kondisi tahun 2021 saat ini dimana tentunya diharapkan Pandemi Covid-19 akan berkurang atau berakhir karena diharapkan vaksin sudah mulai beredar.

Perlu diketahui bahwa meskipun pemerintah meningkatkan defisit dari 3% batas maksimum menjadi ~6%, pemeringkat efek internasional seperti Moody’s dan Fitch tetap mempertahankan rating Indonesia yaitu 2nd level Investment Grade dengan Outlook Stabil. Hanya S&P yang menurunkan rating Indonesia dari Stable ke Negatif.

Namun seiring dengan adanya Burden Sharing oleh BI dan BI menjadi Stand-by Buyer penerbitan obligasi dari pemerintah, risiko fiskal tampaknya berkurang sehingga mendapat respon positif dari pihak internasional.

Yield SUN 10Yr yang menjadi barometer pasar obligasi negara pun terus turun yang menandakan harga SUN terus naik. Ada pontensi Yield SUN 10Yr kembali ke level terendah sejak tahun 2018 yaitu 6.5% dalam waktu dekat.

Pada lelang obligasi 11 Agustus 2020, permintaan yang masuk untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) adalah sebesar Rp106 triliun, salah satu yang tertinggi di tahun ini. Pada lelang kemarin pun menandakan Bank Indonesia mulai membeli SUN dengan skema Burden Sharing dimana salah satunya adalah BI akan mengembalikan kupon yang diterimanya kepada pemerintah. Tentu hal ini akan dapat menghemat fiskal pemerintah. Arguably, duet Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah negara Indonesia.

Semoga.

Yield SUN10Yr Bersiap Kembali Naik Menuju 9%

Pada Selasa, 28 April 2020, Pemerintah melakukan lelang obligasi dan diperoleh total permintaan yang terus meningkat serta tertinggi sejak pertengahan Maret 2020.

Hal ini cukup bagus karena semenjak pemerintah mengumumkan rencana stimulus sebesar ~Rp400 triliun dan defisit anggaran mencapai -5.07%, pasar obligasi mencatat penurunan harga dan kenaikan Yield. Investor mengkhawatirkan akan terjadi suplai yang besar dari obligasi karena pemerintah akan menerbitkan Rp549 triliun surat hutang, lebih tinggi Rp160 triliun dari APBN2020 yang awal.

Indonesia sendiri akhirnya di Downgrade Outlook-nya oleh S&P dari Stable menjadi Negative. Artinya adalah ada potensi S&P menurunkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB- dalam 12 bulan ke depan. Tentu hal ini karena adanya kenaikan defisit anggaran sebesar -5.07% dan dengan kehati-hatian dalam mengelola anggaran, ada harapan S&P menaikkan kembali Outlook-nya menjadi Stable.

Selain itu, pandangan Investor global terhadap Indonesia masih baik karena saat Pemerintah menerbitkan Pandemo Bond sebesar USD4.3 miliar, Yield yang diminta relatif rendah dibanding 5 tahun terakhir.

Meski demikian, dalam jangka pendek (1-2 bulan ke depan), The Primary Trader melihat potensi Yield SUN10Yr naik menuju 9%, melanjutkan tren kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020. Tentu ada harapan Yield kembali ke level 7% – 7.5% di 2H20. Namun menurut The Primary Trader, hal tersebut akan sangat tergantung dalam kebijakan Pemerintah dan ketaatan masyarakat untuk mengendalikan wabah COVID-19 di Indonesia.

Semoga studi dari Singapore University of Technology and Design yang memperkirakan wabah COVID-19 berakhir di awal Juni 2020 benar.

Dipersimpangan “Mengawali Bottom” Atau “Melanjutkan Bearish”

Rupiah sedang berada di Support dari Uptrend Channel sejak Juli 2015. Bila ternyata Rupiah berhasil terus menguat dari saat ini di Rp15,700, ada potensi tren penguatan Rupiah berlanjut menuju Rp13,500 – Rp14,500. The Primary Trader percaya Rupiah dalam tren menguat namun mungkin akan stabil di kisaran Rp15,000/USD. Setidaknya, The Primary Trader perkirakan Rupiah akan sulit untuk kembali melemah mendekati Rp17,000.

Sentimen yang paling penting adalah dimana Bank Indonesia mendapatkan jalur untuk memperoleh US Dollar dari The Fed sebesar USD60 miliar. Lalu sentimen berikutnya adalah kemungkinan Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 surplus setelah Neraca Perdagangan bulan Februari dan Maret 2020 surplus.

Indonesia Balance of Trade

Membaiknya Rupiah tentu juga terlihat dari penguatan SUN. The Primary Trader sempat mengkhawatirkan Yield SUN10Yr dapat terus naik mendekati 9%. Sideways Yield SUN10Yr dari sejak pertengahan Maret 2020 terlihat sebagai Bullish Continuation yang menandakan kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020 menuju 8.5% (dalam waktu 3 minggu) masih dapat berlangsung.

Namun demikian, pergerakan Yield dalam 2 hari terakhir yang turun dari 7.8% ke 7.7% menandakan pola Bullish Continuation (Symmetrical Triangle) berpotensi gagal. Untuk mengonfirmasi pola tersebut (dan membuat Yield naik menuju 9%), Yield harus melewati 8.2%. Tentu dengan kondisi level Yield saat ini (7.8%), ada harapan pola tersebut batal sehingga Yield berpotensi terus turun menuju Support di 7.35%.

The Primary Trader menyukai fakta bahwa ketika Pemerintah Indonesia menerbitkan Pandemic Bond, Yield yang diminta lebih rendah dari obligasi internasional Indonesia dari tahun 2015. Hal ini tentu menunjukkan kredibilatas dan kepercayaan Investor terhadap Indonesia.

Memang rencana Indonesia untuk menaikkan defisit anggaran tahun 2020 menjadi 5.07% dari GDP relatif mengkhawatirkan. Namun hal tersebut adalah Necessary Evil dalam rangka menghadapi Pandemi Corona dan mengurangi dampak negatif terhadap perekonomi Indonesia setelah wabah selesai.

Salah satu kekhawatiran Investor akan peningkatan defisit anggaran tersebut adalah Indonesia dapat kehilangan rating Investment Grade. The Primary Trader setuju dengan Mandiri Sekuritas bahwa peluang Downgrade Rating Indonesia relatif lebih kecil dan justru ada peluang Upgrade Investment Grade karena ekonomi Indonesia di tahun 2020 dapat relatif bertahan dibanding negara – negara lain.

The Primary Trader percaya masih ada potensi penurunan bagi IHSG (terlepas dari pergerakan Rupiah dan Yield SUN). Namun penurunan tersebut adalah One Last Drop dimana dapat dikatakan saat ini IHSG sedang dalam proses mengakhiri Downtrend (atau dalam proses Bottoming). The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan turun menuju 3,750 atau lebih rendah dari level Lowest 2020 di ~3,911. Setelahnya, The Primary Trader prediksi IHSG akan mengonfirmasi pola Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend.

Salah satu katalis penurunan adalah musim laporan keuangan 1Q20 yang mulai pertengahan April 2020 akan dirilis. Tentu The Primary Trader perkirakan kinerja emiten di 1Q20 akan kurang bagus karena mulai sejak Februari 2020, aktifitas ekonomi global dan domestik mulai perlahan terganggu karena wabah Covid-19 ini.

Semoga Pandemi ini cepat selesai. Stay Healthy.

Foreign Flow Dan Potensi Bottoming Pada IHSG ?

Apakah Mulai Ada Foreign Inflow Pada IHSG ?

IHSG mencatat kenaikan sebesar 15.5% dalam 2 hari terakhir setelah Kongres AS menyetujui paket stimulus dari pemerintah AS sebesar total ~USD2 triliun. Paket tersebut disetujui oleh House of Representative AS dan telah ditandatangani oleh Presiden Trump pada Jumat malam. Dengan demikian, setidaknya dapat diharapkan ekonomi AS tidak terpukul lebih dalam karena wabah Corona dan tentu dengan ekonomi AS yang bertahan, ekonomi dunia diharapkan dapat juga tertolong.

The Primary Trader belum melihat adanya Net Foreign Inflow pada IHSG meskipun dalam dua hari terakhir, ada Net Buy Asing dengan total sebesar Rp773 miliar. Angka tersebut masih relatif jauh dibanding Net Sell Asing dari awal tahun 2020 yaitu sebesar Rp12.6 triliun. Meski demikian, mengingat sentimen positif dari paket stimulus AS, tentu setelah resmi ditandatangani, maka Investor akan lebih optimis dari sebelum paket tersebut diresmikan.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

Dari beberapa estimasi penurunan IHSG, The Primary Trader menyukai Weekly Chart berikut :

IHSG telah bergerak dalam Downtrend Channel sejak tahun 2018. Memang Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang sehingga The Primary Trader masih optimis ketika IHSG mendekati Resistance dari Channel tersebut di 6,300an pada Januari 2020. Namun ternyata terjadi Black Swan (Serangan AS pada Jenderal Iran dan wabah Corona) yang pada akhirnya IHSG turun dan Breakdown Support Downtrend Channel di 5,300 pada awal Maret 2020.

Dengan terjadinya Breakdown tersebut, IHSG terancam turun setidaknya mencapai 4,300 yang merupakan tinggi dari Channel. Namun IHSG terus turun sampai bahkan menyentuh 3,910an (24 Maret 2020). IHSG pada level tersebut mengikuti Downward Projection dari Fibonacci Retracement yang ditarik dari Juli 2018 sampai Maret 2019 yaitu di level 261.8% atau 3,810an.

Berdasarkan garis Fibonacci tersebut, IHSG masih harus Breakout level 161.8% di 4,900an. Namun The Primary Trader meyakini bahwa level 261.8% adalah level yang cukup dalam dan jarang tercapai. Tentu lebih jarang lagi bagi pergerakan harga untuk turun (atau naik) di bawah (atau di atas) 261.8%. Oleh karena itu, The Primary Trader percaya bahwa IHSG sudah mendekati akhir dari Downtrend dan berpotensi segera Bottoming.

Untuk mengatakan Bottom relatif lebih gampang namun untuk mengatakan kapan mulai akan naik dan kembali Uptrend adalah pertanyaan terpentingnya. The Primary Trader percaya bahwa dari penurunan yang dalam dan cepat maka akan diikuti oleh kenaikan yang tinggi dan cepat juga. Namun perlu diingat bahwa tentu ada alasan yang membuat Investor Panic Selling dan alasan tersebut harus terlebih dahulu hilang.

Penurunan saat ini disebabkan oleh Pandemi Wabah Corona. Apabila wabah tersebut belum selesai, belum ditemukan obatnya atau vaksinnya, tentu ada kemungkinan Investor masih akan kembali Panic Selling atau belum memulai Buying yang membuat harga kembali dalam Uptrend.

Melihat ke pergerakan historis, The Primary Trader mencatat bahwa IHSG setidaknya perlu waktu 4x dari lamanya waktu penurunan untuk kembali melewati titik tertingginya sebelum terjadi penurunan. Berikut adalah Update Chart dari artikel tersebut :

Mungkin akan perlu waktu 44 bulan untuk dapat melewati level 6,636 (bukan All Time High) dari level saat ini – dengan asumsi level 3,911 adalah Bottom IHSG. The Primary Trader lebih memilih untuk membeli saham – saham yang memang sudah murah dan bersabar.

Investor Mulai Membeli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG sudah mulai kembali ke Safe Heaven dengan membeli aset Gold setelah sebelumnya terlihat Hoarding Cash. Penguatan USD Index (warna biru) di awal Maret 2020 mengindikasikan Investor sangat khawatir dengan kondisi pasar bahkan emas (XAUUSD, warna orange) pun dijual. Namun dengan adanya stimulus tersebut, dari sejak minggu lalu, emas mulai kembali naik dan USD Index mulai turun.

Live Chart Here

Seiring dengan Investor mulai masuk ke Safe Heaven, ada harapan Investor akan kembali lebih optimis sehingga kembali masuk ke Riskier Asset yaitu Emerging Market, baik Bond maupun Equity. The Primary Trader memperhatikan pergerakan Rupiah (USDIDR), Yield SUN10Yr dan IHSG :

Live Chart Here

The Primary Trader melihat perlemahan USDIDR dari sejak awal tahun mulai selesai dan Rupiah berpotensi mulai menguat terhadap US Dollar. Dengan kata lain, ada potensi Foreign Inflow yang sering dapat diasosiasikan setiap ada penguatan Rupiah.

Yield SUN10Yr yang dari awal tahun 2020 naik pun mulai terlihat berpotensi menurun. Penurunan Yield menandakan kenaikan harga SUN sehingga tentu ada potensi kenaikan harga SUN dalam waktu dekat.

Sesuai dengan teori dasar investasi, ada korelasi negatif antara Yield Obligasi dengan Indeks Saham. Hal ini perlu diingat kembali bahwa ada korelasi yang juga negatif antara Yield Obligasi dengan Harga Obligasi. Bila Yield Obligasi turun maka Harga Obligasi turun. Oleh karena itu, bila Yield Obligasi turun dan Indeks Saham naik (korelasi negatif) maka tentu ada korelasi yang positif antara Harga Obligasi dengan Indeks Saham.

Kenaikan Harga Obligasi dan Harga (Indeks) Saham menandakan Investor mulai membeli Risky dan Riskier Asset. Diikuti dengan penguatan Rupiah (nantinya), The Primary Trader akan menyimpulkan Investor (terutama Investor Asing) akan mulai masuk ke pasar Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader akan memperhatikan dengan seksama chart Indonesia Three Musketeers.

Stay Healthy and at Home.

Pilihan Ditengah Kepanikan

Investor Membeli US Treasury

Yield UST 10Yr berhasil Breakdown 1.3% yang merupakan level terendah sejak Sideways dari tahun 2012. Apabila dilihat dari pergerakan sejak September 2019, Yield UST 10Yr melanjutkan Downtrend dari sejak September 2018 dari 3.25%. Terjadi Technical Rebound pada September 2019 dari 1.4% ke 2% di akhir tahun 2019. Karena Yield gagal untuk naik di atas 2% maka terjadinya kelanjutan Downtrend. Dengan demikian, Breakdown Support (dari 2012) di 1.3% menandakan Yield masih akan terus turun.

Investor terlihat terus membeli UST 10Yr yang dianggap Safe Heaven. The Primary Trader bahkan melihat Yield UST 10Y membuat New Low sepanjang masa (!). Hal ini membuka peluang Yield UST 10Yr dapat mengikuti ‘nasib’ Government Bond yang mengasilkan Negative Yield seperti Jerman dan Jepang.

The Primary Trader perkirakan akan terjadi (kembali) Negative Spread yang artinya Investor lebih banyak membeli Yield UST 10Yr dibanding Yield UST 2Yr. Saat ini Spread Yield UST 10Yr dengan 2Yr sedang Sideways di kisaran 0.1% – 0.2%. Kemungkinan dalam 1-2 bulan lagi kan kembali terjadi Negative Spread.

Dampak Terhadap Pasar Modal Indonesia

Investor Asing tampaknya keluar dari Indonesia dimana hal tersebut juga terlihat dari perlemahan Rupiah terhadap US Dollar. Rupiah saat ini berada di Resistance di Rp13,900 yang menjadi Support kuat menahan Rupiah untuk menguat sepanjang tahun 2019. Ada indikasi Rupiah berhasil melewati Resistance Rp13,900 yang berarti ada perubahan minat Investor. Rupiah pun berpotensi kembali melemah menuju Rp14,500 dan membatalkan potens penguatan menuju Rp13,250.

Keluarnya Investor Asing dari Indonesia membuat tidak ada lagi pendorong Yield SUN10Yr untuk terus turun menuju 5.9%. Yield SUN10Yr berpotensi naik menuju 7% dari saat ini di Support (dan target 2020) 6.5%. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend selama bertahan di bawah 7% dan ada Down Trendline di 6.9%an yang menjadi indikasi awal untuk Downtrend terus bertahan.

The Primary Trader perkirakan Yield SUN10Yr masih akan bertahan Downtrend karena Bank Indonesia (dan pemerintah) cukup reaktif dan ahead the curve dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi karena Corona. Di bulan Februari 2020, Bank Indonesia menurunkan BI 7DRR Rate sebesar 0.25% menjadi 4.75% dan pemerintah menghapus pajak hotel dan restoran serta menurunkan harga tiket pesawat untuk mendorong pariwisata (dan menjaga daya beli masyarakat daerah).

Peluang Menarik di Pasar Obligasi dan Emas

Pasar Obligasi masih menarik ditengah kondisi panik ini. The Primary Trader pun melihat aset emas tetap dan semakin menarik. Saat ini XAUUSD yang menjadi harga acuan emas internasional masih berpotensi naik menuju USD1,800 dari saat ini di USD1,640an. Berdasarkan pergerakan pada 4Q19, XAUUSD berpotensi naik menuju USD1,800 sementara berdasarkan pergerakan sejak 2017 (dan dari sejak Breakout USD1,370 di Agustus 2019), XAUUSD setidaknya naik sampai USD1,700.

Hal menarik pada XAUUSD adalah bahwa target di USD1,800 adalah Resistance penting emas sejak tahun 2012 dimana saat itu adalah puncak dari harga emas (di USD1,920) pada akhir 2011. Dengan demikian, ada potensi emas kembali berjaya untuk jangka panjang (setelah 8 tahun terakhir mencatat kinerja yang kurang baik). Memang masih panjang perjalanan menuju USD1,800 ataupun USD1,920 namun setidaknya Uptrend XAUUSD yang masih sangat kuat membuka peluang emas menuju level tertingginya tetap terbuka lebar.

Bagaimana Dengan IHSG?

The Primary Trader akan membahasnya setelah kepanikan sedikit mereda 🙂

Mulai Stabil Tapi Belum Selesai

Mulai Tenang

The Primary Trader melihat index VIX yang sempat naik di akhir Januari 2020 dari level 12 ke 20 (pada awal wabah Corona). Namun ternyata VIX tetap tidak naik di atas level 20 yang merupakan Resistance sejak Oktober 2019. Hal ini menandakan kekhawatiran Investor tidak berlarut. Selain karena wabah Corona dapat dikendalikan (dengan baik) oleh Pemerintah China, ilmuwan sudah berhasil menemukan obat dan vaksin meskipun harus melalui masa uji keamanan.

Bursa Shanghai (Shcomp) sendiri sejak di buka pertama kali setelah wabah Corona telah naik sebesar 7%. Memang pada waktu dibuka, Shcomp sempat turun -9% akan tetap sejak saat itu, Shcomp terus naik sebesar 7%. Saat ini Shcomp sedang menguji Resistance di 2,900an namun The Primary Trader perkirakan Shcomp masih belum akan berhasil Breakout untuk menguji Resistance penting berikutnya di 3,000.

The Primary Trader perkirakan Investor China masih ingin melihat dampak negatif dari wabah Corona terhadap ekonomi China. Selain itu, tampaknya Investor masih ingin melihat stimulus dan aksi pemerintah China untuk melawan ancaman penurunan ekonomi China karena terganggunya aktiftas bisnis di China. Meski demikian, The Primary Trader yakin Shcomp akan sulit untuk turun di bawah Support kuat 2,700 dan peluang turun menuju 2,400 relatif kecil.

IHSG Masih Terancam

The Primary Trader belum melihat awal pembentukan Bottom dari penurunan IHSG sejak Januari 2020. Oleh karena itu, ada potensi IHSG masih kembali turun menuju 5,600 – 5,700.

Memang terlihat bahwa Net Sell Asing mulai berkurang. Terlihat bahwa Net Akumulasi Asing di 2 bulan pertama 2020 tidak lebih turun dibanding Desember 2019 lalu. Namun belum terlihat Tren Net Sell Asing berkurang sehingga menurut The Primary Trader, hal tersebut perlu diwaspadai.

Pasar Obligasi Masih Menarik

Di saat IHSG masih kurang menarik, pasar obligasi – dilihat dari Yield SUN10Yr masih sangat menarik. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend sejak Oktober 2018 dan bahkan dimulai dari Desember 2019, Downtrend semakin kuat karena terlihat sudut penurunan semakin tajam. Dari 20 derajat (Oktober 2018 – Desember 2019) menjadi 49 derajat (mulai dari Desember 2019). Perlu diketahui bahwa tren dengan ~45 derajat menunjukkan tren yang kuat dan stabil. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan Yield masih dapat turun menuju 5.9% dengan Breakout Support saat ini di 6.5%.

Investor tampaknya menganggap Indonesia semakin menarik setelah memasuki periode ke-2 Presiden Jokowi. Selain karena harapan reformasi perlahan mulai terlihat (dari aksi Menteri – Menteri Indonesia Maju seperti Menteri BUMN Erick Thohir), pemerintah pun sudah menyelesaikan draf RUU Cipta Kerja ke DPR dimingu kedua Februari 2020. Meski masih kontroversi namun The Primary Trader melihat RUU tersebut dapat mendorong investasi.

Yield SUN10Yr telah memberikan Return yang sangat menarik dibandingkan IHSG – sejak awal tahun 2019. Memang sesuai dengan teori dasar, pergerakan Yield Obligasi berbanding terbalik dengan IHSG. Bila Yield turun maka IHSG naik dan sebaliknya bila Yield naik maka IHSG turun. Secara teori, hal ini berarti harga Obligasi dan Saham bergerak bersamaan. Kenaikan harga Obligasi berarti penurunan Yield Obligasi.

Bila memang saat ini pasar obligasi masih menarik maka The Primary Trader berpikir bahwa di tahun 2020 ini adalah tahun akhir dari sebuah siklus “Hard Landing” dan di awal siklus “Soft Landing” (lihat Asset Allocation Clock dari Merril Lynch). Diperlukan Rate Cuts untuk berpindah siklus menuju “Recovery”.

Image result for investment asset cycle

The Primary Trader meyakini BI akan kembali menurunkan BI 7DRR Rate di tahun 2020 – setelah atau sebelum The Fed menurunkan Fed Fund Rate. Ekonomi Indonesia berpotensi kembali turun karena wabah Corona ini sehingga BI seharusnya kembali melakukan stimulus moneter.

Mencari Alasan Naik

Dampak Terburuk Wabah Corona

Wabah Virus Corona di Wuhan dan China tampaknya telah terisolasi dan tidak semakin menyebar. Tingkat kematian akibat virus Corona memang lebih tinggi dari SARS namun persentasi tingkat kematian masih relatif rendah dibanding wabah penyakit – penyakit berat lainnya (seperti Ebola). Beberapa Analis memprediksikan puncak wabah Corona akan segera tercapai dalam waktu dekat sehingga diharapkan pasien yang terinfeksi virus serta tingkat kematian mulai menurun.

Meski puncak wabah sudah dekat namun The Primary Trader setuju bahwa dampak ekonomi virus Corona baru akan dirasakan setelahnya. Industri yang paling dahulu merasakan dampak negatif wabah Corona adalah pariwisata. Saat ini para ekonomi tampaknya mulai melihat bahwa pabrik manufaktur (terutama automotif dan elektronik) sudah terdampak karena produksinya yang turun sehingga ke depan, penjualan pun akan turun.

Pada akhirnya, seperti yang ditakuti Investor, wabah Corona dapat memicu perlambatan ekonomi global yang lebih parah dari perkiraan. Memang China (dan AS) tetap bertekad untuk terus menjalankan kesepakatan dagang fase pertama (yang ditandatangani seminggu sebelum awal wabah Corona) namun ada kemungkinan negara lain masih enggan bertransaksi dengan China sampai setidaknya di bulan Maret 2020. Hal ini terlihat dari larangan industri penerbangan. Dengan porsi terhadap ekonomi sebesar 18%, tentu hal ini akan berdampak signifikan baik China, negara tersebut dan ekonomi global.

The Primary Trader setuju bahwa pada akhirnya, bank sentral perlu untuk ikut campur seperti kembali menurunkan suku bunga atau stimulus moneter lainnya. People’s Bank of China (PBOC) cukup cepat menurunkan suku bunga dan menyuntikkan likuiditas untuk mempermudah pemulihan ekonomi. Bank Indonesia disebutkan akan mengantisipasi dampak wabah Corona dan siap untuk menurunkan suku bunga dan memberi stimulus moneter. BI sebelumnya sempat mengintervensi pasar obligasi dengan membeli obligasi pada masa awal wabah Corona (disaat Investor Asing keluar dari Indonesia karena kekhawatiran wabah tersebut). The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di bulan Maret 2020 atau paling tidak di 1H20.

Berita buruk cenderung merupakan berita baik untuk pasar obligasi. Dengan adanya harapan penurunan suku bunga maka pasar obligasi akan menjadi menarik dalam rangka menjamin Return yang lebih tinggi dari Deposito. The Primary Trader masih percaya Yield SUN10Yr dapat turun di bawah 6.5%. Yield berpotensi turun sampai 5.9% dalam jangka menengah namun perlu katalis – katalis tambahan untuk dapat Breakdown Support di 6.5%.

Katalis Positif Untuk Indonesia

Setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+, ada harapan pemeringkat efek atau pemberi rating lainnya ikut menaikkan rating. Di minggu ini, Moody’s mempertahankan rating Indonesia dan memberi Outlook Stabil. Artinya adalah rating Indonesia versi Moody’s masih di Baa2 atau setara BBB. Memang di level Investment Grade namun berarti di tahun 2020 ini, Moody’s kemungkinan besar tidak mengupgrade rating Indonesia seperti JCRA. The Primary Trader menilai Moody’s dan S&P relatif lebih ‘pelit’ dalam memberikan rating. The Primary Trader berharap dan memperkirakan Fitch akan mengupgrade rating Indonesia di tahun ini terutama setelah Omnibus Law selesai disahkan (dimana diharapkan) pada 1H20.

Menurut The Primary Trader, ada hal lain yang setidaknya dapat menjadi katalis positif untuk Capital Inflow yaitu Current Account. Saat ini Current Account Deficit Indonesia (2019) berada di level 2.72% dari GDP, membaik dari CAD 2018 sebesar 2.98% dari GDP.

Di tahun 2020, ada potensi CAD kembali membaik karena dua kebijakan utama yaitu : 1) Program B30 dimana ada kandungan CPO (lokal) sebesar 30% dan 2) Kuota Impor Minyak dari Pertamina dipotong 30 juta barel agar Pertamina lebih banyak membeli dari tambang minyak lokal. Hal ini tentu akan mengurangi impor minyak yang cukup signifikan sehingga mengurangi Trade Balance dan memperbaiki Current Account.

Perbaikan pada sisi moneter akan terlihat jelas pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat dengan potensi Rp13,250 – bila tidak ditahan oleh BI. Setidaknya Rupiah masih dapat stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800 dan akan sulit untuk kembali melemah di atas Rp13,900.

Mulai Beli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG masih memiliki risiko dari pertumbuhan ekonomi Indonesia (dan global). Perlu diwaspada karena Annual Return IHSG sejak tahun 2011 relatif sempit yaitu berkisar antara -13% s.d 20% (bandingkan dengan Annual Return 2003 – 2010).

Annual Return yang tinggi pada IHSG beriringan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi pada periode tersebut dengan kisaran 6% – 7% per tahun. Perlu diperhatikan bahwa pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai (sangat) stabil di 5%. Pertumbuhan stabil di level rendah kurang bagus untuk pasar saham.

Indonesia GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader setuju bahwa IHSG sudah murah dan mulai menarik untuk berinvestasi pada saham. Namun pergerakan IHSG dalam seminggu terakhir belum menunjukkan potensi awal Bottom.

IHSG lebih cenderung naik sebagai Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend (menuju 6,000 kemarin). Saat ini IHSG terancam turun sebagai penurunan dalam Downtrend yang berpotensi menuju 5,700 – menggunakan Fibonacci Retracement.

Valuasi murah memang namun pada akhirnya Trend is Our Friend. The Primary Trader masih lebih menyukai pasar obligasi untuk saat ini sampai setidaknya ada katalis yang positif untuk pasar saham yang salah satunya adalah Omnibus Law.

Menjelang Bottom

Mulai Muncul Berita Positif

The Primary Trader memperhatikan bahwa penyebaran wabah virus Corona sudah mulai terkendali karena banyak negara yang menutup pintu masuk sementara terhadap warga China (termasuk Indonesia). Hal ini memang memukul industri pariwisata dan industri penerbangan namun ampuh untuk menghindari penyebaran wabah.

Sampai pagi ini, ada lebih dari 20 ribu kasus Corona dan kematian mencapai 490 orang. Namun menurut WHO, ada 680 orang yang berhasil sembuh dari penyakit Corona tersebut. Hal ini cukup menenangkan karena ada lebih banyak pasien yang sembuh dibanding yang meninggal.

Para dokter di Filipina pun disebutkan berhasil memperbaiki kondisi pasian yang terinfeksi Corona dengan gabungan obat flu dan HIV. Ada harapan penyembuhan dari penyakit infeksi virus Corona ini. Setelah RS khusus Corona (1,000 tempat tidur) di Wuhan selesai dibangun dalam 10 hari (!), kemungkinan metode penyembuhan penyakit ini pun mulai muncul.

China akhirnya membuka diri terhadap pertolongan dari AS agar tenaga ahli medis yang juga merupakan anggota WHO. Harapan penanggulanan wabah Corona seharusnya semakin besar. Beberapa perusahaan farmasi pun mulai menemukan titik cerah untuk obat penyakit Corona meskipun disebutkan perlu setidaknya 1 tahun untuk memproduksi obat dan vaksin yang aman untuk masyarakat.

Berita – berita tersebut menurut The Primary Trader adalah salah satu potensi katalis positif yang dapat mengakhiri penurunan karena wabah Corona.

Menghadapi Dampak Negatif Virus Corona

Menurut The Primary Trader, bukan karena Virus Corona Investor menjual aset saham dan Risky Asset lainnya dan berpindah ke Safe Heaven seperti Emas (yang sempat naik 3% dari sejak wabah memuncak). Investor mengkhawatirkan dampak ekonomi dari banyaknya masyarakat China yang terkena penyakit dan bagaimana miliaran orang di Dunia mengantisipasinya dengan waspada. Industri pariwisata dan penerbangan jelas paling terpukul karena pembatalan jadwal dan penutupan izin masuk. Namun buruh pabrik dan kantor lainnya di China masih banyak yang tutup sehingga praktis aktivitas ekonomi tersendat.

Dilihat dari data Manufacturing PMI, China diharapkan mulai tumbuh namun ternyata, data Januari 2020 menunjukkan penurunan dari 51.5 menjadi 51.1. Penurunan tersebut memang dapat disebabkan oleh antisipasi Chinese New Year dimana banyak masyarakat yang ‘mudik’. Namun karena dampak wabah Corona, ada kemungkinan Manufacturing PMI kembali turun di bawah 50 (ekonomi berkontraksi) dan hal inilah yang menurut The Primary Trader menjadi kekhawatiran utama para Investor.

China Caixin Manufacturing PMI

Untungnya adalah para bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, cepat melihat potensi ancaman tersebut. Saat ini para ekonom tampaknya sedang menghitung dampak negatif virus Corona terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2020. Bank sentral pun seharusnya sedang menghitung perlunya stimulus moneter termasuk penurunan suku bunga. BI sendiri terus mengintervensi pasar sejak wabah terjadi dan mengatakan masih membuka peluang stimulus berupa penurunan suku bunga. Rapat Dewan Gubernur BI ada di 20 Februari 2020 dan 19 Maret 2020. The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di 19 Maret 2020.

Sentimen positif terhadap Indonesia kembali terlihat setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ atau level Investment Grade yang lebih tinggi. Tidak mengherankan karena memang JCRA lebih Bullish terhadap Indonesia (dan pihak Jepang banyak berinvestasi pada proyek raksasa di Indonesia seperti Pelabuhan Patimban dan Kereta Cepat Jakarta – Surabaya). Pada lelang SUN kemarin, permintaan yang masuk kembali mencatat rekor yaitu sebesar Rp 96 triliun (dari sebelumnya Rp 94 triliun). Tingginya minat membeli SUN tentu menunjukkan sentimen terhadap Indonesia.

Memang bagusnya lelang SUN akan berdampak pada harga SUN yang akan semakin naik. Kenaikan harga SUN berarti menurunkan Yield sehingga Yield acuan yaitu Yield SUN10Yr masih berpotensi turun menuju 5.9% setelah Breakdown Support kuat di 6.5%.

The Primary Trader melihat intervensi BI terhadap Rupiah menjaga Rupiah untuk tidak terus melemah di atas Rp13,800 namun Rupiah masih terlihat berpotensi menguatmenuju Rp13,250 – dengan Breakdown Support di Rp13,600. Seiring dengan intervensi BI tersebut (dan pandangan pemerintah agar Rupiah tidak menguat terlalu cepat), tampaknya Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800. Hal ini cukup baik karena yang terpenting adalah kestabilan mata uang (Rupiah).

IHSG Bottoming ?

Melihat jarak antara MA200 (annual average) dengan IHSG, sejak Oktober 2019, IHSG cenderung berada -5% bawah MA200 sebelum kembali naik. Saat ini IHSG sudah berada -5.2% di bawah MA200 sehingga ada potensi IHSG naik mendekati MA200. Ada potensi kenaikan sebesar 4.6%.

Berdasarkan momentum pergerakan IHSG, The Primary Trader melihat bahwa IHSG cenderung turun -6% dari pergerakan 60 hari lalu (Quarter on Quarter) dan IHSG telah turun sebesar tersebut pada 2 hari lalu. Dengan demikian, terlihat perlambatan momentum penurunan yang dapat diartikan bahwa kekuatan turun (Selling Power) atau minat jual mulai melemah.

Masih ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 karena The Primary Trader belum melihat indikasi Bottoming dari Candlestick 2 hari terakhir. Dengan demikian, IHSG masih cenderung terlihat sedang dalam proses Breakdown Support di 5,940 ini.

Harapan kenaikan muncul karena IHSG berada di level terendah sejak 52Week terakhir. Investor jangka panjang terindikasi sering memperhatikan level ini (seperti mereka disebutkan memperhatikan MA200). Dengan demikian, meski belum terlihat indikasi Bottoming, harapan akan terbentuk Bottoming mulai ada karena IHSG cenderung Oversold atau Jenuh Jual dilihat dari posisi 52Wk terakhir.

Tentu katalis positif dari berakhirnya wabah Corona, terbitnya Omnibus Law yang sesuai dan benar serta stimulus berupa penurunan suku bunga BI 7DRR Rate (dan Fed Rate) di tahun 2020 yang akan menjadi katalis utama bagi IHSG.

Time To Panic Already ? Well No

Potensi Sell – Off Pada Pembukaan Shanghai Composite Paska CNY

Senin, 2 Februari 2020, bursa China akan dibuka setelah ditutup pada saat libur Chinese New Year (dan puncak wabah Corona tersebut). Tidak terbayang potensi penurunan Shanghai Comp. The Primary Trader menunjukkan ‘peta’ Support yang berpotensi menahan Shcomp tersebut.

Sebelumnya, paska adanya pengumuman potensi Deal dari Trade War di pertengahan 2019, Shcomp sudah mulai mengakhiri Tech. Correction dari 3,300 di awal April 2019. Setelah adanya kesepakatan secara verbal di Desember 2020, Shcomp terlihat mengakhiri pola Bullish Continuation yang artinya kenaikan sejak 2,400an di awal 2019 sampai April 2019 (di 3,300) berpotensi berlanjut kembali. The Primary Trader perkirakan Shcomp dapat melanjutkan Uptrend menuju 3,600 kembali (level tertinggi sejak awal tahun 2018).

Support terdekat dari Shcomp ada di 2,900 yang merupakan minor Up Trendline dari sejak 2,730 di bulan Agustus 2019. Menurut The Primary Trader, level ini cenderung lemah sehingga sangat mudah di-Breakdown. Support berikut yang seharusnya cukup kuat ada di 2,730 itu sendiri. The Primary Trader perkirakan Shcomp akan turun mendekati namun tidak turun di bawah 2,730 ini. Dengan demikian, ada ancaman Shcomp turun sebesar 8% pada pembukaan paska Chinese New Year (CNY).

Banyak bursa regional Asia turun dalam sejak mulai ramai wabah Corona. Year To Date (YTD), hampir semua bursa regional Asia dan S&P500 mencatat Negative Return. Hang Seng adalah bursa yang paling terpukul dengan Return sebesar -7.8% YTD. Cukup wajar mengingat dampak demonstrasi besar – besaran masih terasa dan ditambah kekhawatiran wabah Corona ini. Shcomp yang masih ditutup dari sejak 23 Januari 2020 kemungkinan besar masih dapat turun lagi lebih dalam.

Pemerintah China dikabarkan akan memberikan stimulus untuk menahan potensi penurunan (Sell-Off) besar – besaran paska CNY. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sentimen positif sementara namun tampaknya tidak akan efektif mengurangi Sell-Off tersebut.

Masih Amankah IHSG ?

IHSG telah Breakdown Support di 6,000an yang berasal dari Up Trendline sejak Juli 2018. Hal ini berarti Downtrend sudah mengancam dan membatalkan potensi Uptrend Jangka Panjang IHSG. The Primary Trader memperkirakan IHSG berhasil bertahan di 6,000 yang berarti mempertahankan Uptrend Jangka Panjang tersebut. Namun ternyata kekhawatiran Investor akan dampak ekonomi dari wabah Corona ini sangat signifikan.

On the positive side, IHSG mungkin sudah Breakdown Support dari Up Trendline namun IHSG belum membentuk Lower Low – seperti yang The Primary Trader harapkan. IHSG perlu turun di bawah 5,930 untuk membentuk Lower Low dan melanjutkan Downtrend dari sejak Agustus 2019.

Akan tetap, mengingat dampak ekonomi China dan Global (serta Indonesia) akibat wabah virus Corona ini, sangat mungkin sentimen negatif masih menghantui IHSG. The Primary Trader perkirakan IHSG akan Breakdown 5,939 dan membentuk Lower Low baru – sehingga mempertahankan Downtrend tersebut. Ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 (Fibonacci Retracement 161.8%) paska Breakdown 5,939. The Primary Trader perkirakan (dan berharap) IHSG turun sampai 5,800 – 5,830.

Pada saat IHSG di 5,800an tersebut, kemungkinan terjadi pada Februari 2020 dan diharapkan mulai ada sentimen positif salah satunya adalah perkembangan Omnibus Law. Selain itu, sentimen Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ seharusnya adalah positif.

Memang katalis positif tersebut sangat terasa di pasar obligasi. Yield SUN10Yr berpotensi terus turun (membaik) menuju 5.9% setelah tentu melewati Support penting di 6.5%. Sempat melemah mendekati 6.8%, Yield berhasil kembali turun yang berarti Down Trendline dari sejak Desember 2019 masih aktif. Down Trendline ini membuat Yield berada dalam Strong (but Short) Downtrend yang menurut The Primary Trader dapat membuat Yield terus turun di bawah 6.5% (yang merupakan target akhir tahun 2020 dari kebanyakan Analis, Ekonom dan Fund Manager).

Sentimen positif yang terjadi pada pasar obligasi tentu cepat atau lambat akan dirasakan pada pasar saham. Kenaikan harga obligasi yang membuat Yield turun adalah karena adanya Capital Inflow. Pada akhirnya, Investor akan membutuhkan Higher Return (dan lebih menerima Higher Risk) sehingga beralih ke pasar saham (IHSG).

Mempertahankan BI 7DRR Rate, Menjaga Sentimen Positif

BI Mempertahankan BI 7DRR Rate

BI mempertahankan BI 7DRR Rate sebesar 5%, sesuai dengan estimasi para Ekonom. Ada beberapa hal menarik dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI kemarin yang The Primary Trader sukai :

  • BI masih membuka ruang untuk penurunan suku bunga (!)
  • BI tetap akan memberikan kebijakan moneter yang akomodatif dan akan terus bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
  • BI juga percaya siklus ekonomi Indonesia telah mencapai dan melewati Bottom sehingga ke depan, ekonomi Indonesia mulai dalam tren bertumbuh. BI perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5.3% YoY di tahun 2020

Menurut The Primary Trader, hal tersebut akan memberikan sentimen positif bagi Investor Asing terhadap Indonesia. Tidak heran bila Rupiah menguat akibat masuknya Capital Inflow.

Rupiah saat ini bertahan di Support Rp13,600 namun sangat terbuka peluang untuk terjadi Breakdown Rp13,600 dan Rupiah terus menguat menuju Rp13,250 yang merupakan level terkuat Rupiah di tahun 2018. The Primary Trader tidak yakin BI atau pemerintah akan membiarkan Rupiah terlalu menguat. Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Rupiah akan cenderung bertahan di Rp13,500 – Rp13,700 di 1Q20 ini.

Masuknya Investor Asing ke Indonesia jelas terlihat pada pasar obligasi. Harga SUN tampaknya terus naik sehingga menurunkan imbal hasil (Yield). Terlihat bahwa Yield SUN10Yr hampir menyentuh 6.5% dan The Primary Trader percaya level tersebut akan segera disentuh dalam waktu dekat.

Melihat penguatan yang sangat besar tersebut, The Primary Trader percaya setelah menguji Support di level 6.5%, Yield akan melemah mendekati 7%. Yield masih mempertahankan Tren Menurun selama tidak naik melewati 7.3%. Dengan demikian, The Primary Trader masih melihat dalam jangka panjang, Yield dapat turun menuju 5.9%.

IHSG Mempertahankan Bullish Continuation – Masih Dalam Uptrend

IHSG masih bertahan di Support 6,200 yang artinya IHSG masih dalam pola Bullish Continuation dari sejak pertengahan Desember 2019 di rentang 6,200 – 6,350. IHSG terancam turun ke 6,100 bila terjadi Breakdown Support di 6,200 tersebut.

Meski IHSG turun ke 6,100, The Primary Trader masih percaya penurunan tersebut sebagai Tech. Correction atau penurunan singkat di tengah Uptrend. Dengan demikian, Uptrend IHSG masih terjaga sekalipun IHSG turun ke 6,100.

Saat ini IHSG mencatat Return sebesar -0.7% YTD. Tampaknya Black Swan yang terjadi secara global (tensi geopolitik di Iran dan Virus Corona dari China) menjadi sentimen negatif yang membatalkan January Effect. The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat naik menuju 6,350 di Januari 2020.

The Primary Trader Daily 8 January 2020

Photo by John Guccione http://www.advergroup.com on Pexels.com

Lelang Perdana SUN Di Awal Tahun 2020 – Sangat Bagus !

Pemerintah melakukan lelang perdana SUN di awal tahun 2020 dan mendapatkan permintaan (Incoming Bid) sebesar Rp81.5 triliun. Target awal adalah sebesar Rp15 triliun sehingga Bid To Cover Ratio (perbandingan antara Incoming Bid dengan target) adalah sebesar 5.4x dan angka ini cukup besar. Permintaan yang tinggi menandakan minat berinvestasi di pasar modal terutama dari Investor Asing. Hal ini positif bagi pasar obligasi dan juga pasar saham.

Yield SUN10Yr masih di kisaran 7.12% namun The Primary Trader percaya Yield akan segera turun menuju 6.5% di pertengahan tahun 2020. Penurunan tersebut ditandai dengan Breakdown Support di level 7%. Terjaganya fiskal Indonesia (karena Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani), Omnibus Law terutama Cut Tax Rate dan potensi Upgrade Rating Indonesia akan menjadi katalis turunnya Yield SUN (yang berarti kenaikan harga SUN) – menurut The Primary Trader.

Rupiah sendiri sedang bersiap untuk menguat menuju Rp13,600/USD. Namun tentu BI akan concern dan menjaga volatilitas Rupiah untuk stabil. The Primary Trader melihat potensi penguatan Rupiah sebagai minat berinvestasi di Indonesia di mata Investor Asing. Setidaknya untuk 1Q20 ini, Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,900 – Rp14,000/USD.

Modal Untuk Penguatan IHSG Sepanjang 1H20

Sentimen saat ini masih negatif karena kekhawatiran perang dan gangguan suplai minyak. Terlebih lagi ternyata ‘balasan’ Iran sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan kembali melemah setidaknya menyentuh 6,200.

IHSG berpotensi segera mengakhiri penurunan sebagai Tech. Correction dan melanjutkan kenaikan menuju 6,450. Namun tampaknya IHSG lebih cenderung kembali melemah – dalam koridor Tech. Correction. The Primary Trader perkirakan IHSG baru akan mengakhiri Tech. Correction di kisaran 6,150 – 6,200.

Katalis penguatan IHSG di 1H20 yang utama, menurut The Primary Trader, adalah Omnibus Law. Dengan demikian, selama tidak terlihat adanya hambatan berarti pada proses pembuatan UU tersebut maka Investor akan tetap optimis terhadap IHSG.

MEDC : Ophir Masih Berpotensi Menarik

Laporan keuangan MEDC di 9M19 mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9% YoY namun ternyata hanya mencapai 45% dari estimasi para analis. Laba bersih di 9M19 pun turun sebesar -32% YoY karena ada biaya – biaya yang naik (seperti biaya depresiasi) tinggi. Laba bersih MEDC di 9M19 yang telah lama ditunggu hanya mencapai 29% dari estimasi para analis.

Namun dampak Ophir di 3Q19 lalu berhasil mendorong pendapatan MEDC sebesar 14% QoQ dan 19% YoY. Hal ini menurut The Primary Trader menunjukkan potensi Ophir terhadap MEDC.

The Primary Trader masih melihat MEDC dalam pola Bullish Continuation sehingga kenaikan dari Rp615 di November 2019 masih berpotensi berlanjut yang membuat MEDC menguji Resistance di Rp1,100. MEDC akan mengawali Uptrend jangka panjang (dengan potensi menuju Rp1,600) setelah Breakout Rp1,100.

The Primary Trader Daily 18 Nov’19

Menunggu RDG BI di 21 November 2019

Pertanyaan pentingnya adalah apakah BI akan kembali menurunkan BI Rate lagi setelah menurunkan sebanyak 100 bps (1%) dari sejak Jul’19 ? BI memang mengatakan akan mendukung usaha pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Inflasi Indonesia yang stabil rendah serta Rupiah yang terjaga pun semakin membuat BI berani untuk menurunkan suku bunga.

Indonesia Interest Rate

The Primary Trader percaya penurunan suku bunga masih akan terjadi 1x lagi di tahun 2019 sehingga menutup tahun ini, BI 7DRR Rate akan berada di level 4.75% dan artinya ada penurunan sebesar 125 bps atau 1.25% di tahun 2019.

Positif untuk Pasar Obligasi

The Primary Trader masih meyakini Yield SUN10Yr, acuan pasar obligasi, masih dalam tren turun. Artinya adalah harga obligasi masih naik (yang membuat Yield turun). The Primary Trader perkirakan Yield sedang dalam tren turun menuju 6.5% dan saat ini sedang dalam tahap Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend. Kenaikan tersebut setidaknya dapat membuat Yield naik mencapai 7.1% namun tidak lebih karena merupakan kenaikan singkat. Ada Support Psikologis di 7% namun seharusnya dalam waktu dekat, seiring dengan Yield memulai kembali penurunan, Support di 7% dapat di-Breakdown.

Ikuti Live Chart di sini.

Selain karena tren penurunan suku bunga, tampaknya Investor mengantisipasi tidak ada lagi lelang obligasi di Des’19 sehingga mereka mengincar di pasar sekunder. Selain itu, harapan akan kenaikan rating Indonesia dari pemeringkat efek internasional pun tampaknya perlahan diantisipasi oleh Investor.

Positif juga untuk IHSG

Meskipun penurunan suku bunga serta membaiknya kondisi makro Indonesia akan berdampak langsung terhadap pasar obligasi, pasar saham seperti IHSG tentu juga akan mendapat katalis positif berupa kenaikan harga. Untuk IHSG sendiri, setidaknya masih bisa bertahan di atas 6,100 yang artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend paska mengakhiri Bullish Continuation dari tahun 2018 (jangka panjang). Uptrend IHSG dalam jangka panjang pula akan diawali dengan Breakout 6,500.

Penurunan IHSG dari sejak pertengahan Okt’19 kemungkinan besar adalah sebagai respon dari kinerja laporan keuangan emiten 3Q19 yang memang tidak dapat dikatakan bagus namun tidak juga dikatakan buruk. Investor dalam waktu dekat seharusnya sudah mengantisipasi sentimen dan katalis positif di tahun 2020. Saat ini pun IHSG sudah di level murah

Dandy Rotation Untuk 18 November 2019

Saham berbasis Komoditas seperti Coal dan CPO menarik untuk diperhatikan karena banyak yang berada dalam kondisi Outperform dan dalam kuadran Outperform (PTBA dan ADRO) atau Buy On Weakness (UNTR dan AALI). Menjelang akhir tahun, China umumnya memerlukan banyak Coal karena masuk musim dingin sehingga pembangkit listrik di sana perlu persediaan Coal.

The Primary Trader menyukai sektor CPO karena adanya peningkatan permintaan karena aturan B30 di Indonesia dan mungkin Malaysia akan mengikuti kebijakan serupa. Selain itu, suplai CPO sendiri sudah berkurang karena penurunan harga yang terus terjadi sejak awal tahun 2017 (-40% sampai Jul’19). Harga CPO telah naik 38% dari sejak Jul’19 dan karena dalam Uptrend maka harga CPO Malaysia berpotensi kembali menuju puncak di tahun 2017. Selain AALI, LSIP dan TBLA pun layak diperhatikan.

Saham berbasis Consumer terutama Poultry, Media dan FMCG pun dapat diperhatikan karena berada dalam kondisi Outperform. Saham dalam kuadran Outperform seperti MYOR, INDF, CPIN dan SIDO dapat menjadi pilihan lalu saham di kuadran Buy on Weakness seperti MNCN dan SCMA pun dapat dipertimbangkan.

The Primary Trader menyukai sektor FMCG karena bila pemerintah menggenjot pengeluaran di awal tahun 2020 (berdasarkan keinginan dan paksaan Presiden kepada Kementerian dan Pemerintah Daerah) maka tentu pengeluaran masyarakat (belanja masyarakat) pun akan naik dari sejak awal tahun dan akan berulang beberapa kali di tahun 2020. Ada potensi pertumbuhan penjualan sektor Consumer di tahun 2020 lebih tinggi dibanding 3Q19 sebesar 5.2% YoY. MYOR, INDF, SIDO, HOKI dan CPIN layak menjadi pilihan.

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).