Stimulus Fiskal Sebagai Penyelamat (Bila Dilaksanakan)

Investor mulai terlihat optimis setelah Presiden AS berencana untuk memberikan stimulus fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan. Namun ternyata dalam satu malam, rencana tersebut ditunda. Hal ini mungkin akan membuat Investor kembali khawatir. Beberapa pihak pun memperkirakan pemotongan pajak penghasilan belum mampu membalikkan kekhawatiran akan wabah Covid-19.

Saat ini penyebaran wabah Covid-19 mulai melebar ke negara Eropa. Penyebaran di Korea Selatan dan Iran mungkin sudah mulai mereda namun penyebaran di Italia masih tinggi dan Perancis serta Spanyol mulai meningkat. Beberapa pejabat penting negara seperti Menteri Kesehatan Inggris, Jendral Polandia dan bahkan pejabat White House (yang sebelum dites positif Corona sempat berinteraksi dengan Presiden Trump).

Kekhawatiran Investor pandemik Covid-19 masih berlangsung membuat Investor memperkirakan resesi global akan terjadi. Index VIX mulai melewati level 50 yang merupakan “peak” dari beberapa kejadian kritis. Dengan melewati level 50, index VIX sepertinya menuju level 90 – 100 yang menyamai risiko pada waktu Global Financial Crisis 2008.

Kekhawatiran Investor memicu Panic Buying pada Safe Heaven, salah satunya adalah US Treasury dimana Yield US Treasury 10Yr terus turun dan sempat menyentuh 0.36%. Seperti halnya Ekonom dan Analis, The Primary Trader perkirakan tidak lama lagi Yield US Treasury 10Yr dapat berada di Negative Yield.

Saat ini Negative Yield terjadi pada obligasi negara Jepang, Jerman dan Perancis. Tampaknya Yield ketiga negara tersebut masih akan stabil berada di zona negatif dan negara AS akan segera ikut setelah Yield US Treasury 10Yr turun tajam dari sejak akhir Februari 2020.

The Primary Trader yakin kondisi saat ini hanya bisa dihadapi dengan ditemukannya obat Covid-19 yang dapat digunakan untuk menyembuhkan. Stimulus Moneter maupun Fiskal mungkin dapat menolong sementara namun data positif tersebut baru akan terlihat dalam 3 – 6 bulan ke depan pada data ekonomi maupun data laporan keuangan emiten. Sentimen positif yang akan membuat Investor kembali membeli pasar saham dan Risky Asset lainnya adalah ketika obat Covid-19 mulai dijual umum.

Berita bagusnya adalah hasil google search pagi ini (11 Maret 2020 pukul 08.13 WIB) menunjukkan hal yang positif sebagai berikut :

Akhir Atau Awal ?

Menjelang Akhir Dari Wabah Covid-19 di China

China melaporkan kenaikan pasien yang sembuh dan dipulangkan dari RS sejak akhir Februari 2020. Setelah itu, pasien baru yang dilaporkan terinfeksi mulai berkurang sehingga total pasien yang terinfeksi mulai stagnan di akhir Februari 2020 menjelang awal Maret 2020. Ada harapan wabah Covid-19 di China mulai mereda. Bahkan salah satu RS di China yang khusus menangani Covid-19 telah ditutup karena jumlah pasien baru turun drastis.

Namun ternyata, penyebaran Covid-19 di seluruh dunia mulai terlihat meningkat. Di Indonesia sendiri dilaporkan kasus pertama pada 2 pasien yang positif terkena infeksi Covid-19. AS melaporkan total ada 9 pasien meninggal dari 105 pasien yang positif terinfeksi. Tampaknya ada potensi pandemik meski WHO belum mengumumkan hal tersebut.

Emergency Cut Rate oleh The Fed

The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% menjadi 1.25% karena melihat wabah Covid-19 dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi AS yang saat ini (menurut The Fed) masih terjaga baik. Oleh karena itu sebagai bagian dari antisipasi, The Fed memotong suku bunga di luar jadwal FOMC Meeting (dimana rencananya diadakan pada 19 Maret 2020, bersamaan dengan Rapat Dewan Gubernur BI).

United States Fed Funds Rate

Keputusan The Fed memotong suku bunga di awal Maret 2020 sejalan dengan estimasi Investor bahwa bank sentral lain (seperti ECB, BOJ dan BOE) akan ikut menurunkan suku bunga acuan pada jadwal rapat masing – masing. The Primary Trader perkirakan pada pertengahan Maret 2020 akan semakin tinggi aksi spekulasi Investor (menjelang pengumuman ECB dan BOJ).


Dampak langsung dari pemotongan suku bunga adalah penurunan Yield obligasi. Saat ini Yield UST 10Yr sudah di level 1%. Sejak bulan Februari 2020, Yield UST 10Yr berada di level terendah sepanjang sejarah dan The Primary Trader perkirakan sangat mungkin Yield UST 10Yr berada di area negatif mengikuti Yield negara besar lainnya.

VIX Memuncak – Tanda Berakhir (?)

Melihat reaksi bank sentral yang relatif cepat dan pemerintah yang juga responsif (saat ini pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan stimulus kedua), The Primary Trader meyakini dampak negatif dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia dapat diminimalisir. Pada akhirnya wabah Covid-19 hanya dapat diselesaikan oleh pihak medis dan diharapkan dapat segera ditemukan dan disebarluaskan obat serta vaksin Covid-19. Setidaknya sudah ada 3 obat yang berpotensi digunakan untuk terapi antara lain obat anti-HIV dan anti Malaria.

The Primary Trader melihat kembali indeks VIX yang sudah mencapai level 50an. Level tersebut adalah level Resistance yang mengindikasikan risiko tertinggi diluar dari Global Finance Crisis (yang dapat mengangkat VIX mendekati level 100). Setelah VIX mendekati 50 tentu akhirnya VIX kembali ke level normal yaitu di 20 – 30.

The Primary Trader optimis memasuki bulan April 2020 atau 2Q20, kondisi keuangan akan relatif membaik dan diharapkan wabah Covid-19 dapat terkendali.

Pilihan Ditengah Kepanikan

Investor Membeli US Treasury

Yield UST 10Yr berhasil Breakdown 1.3% yang merupakan level terendah sejak Sideways dari tahun 2012. Apabila dilihat dari pergerakan sejak September 2019, Yield UST 10Yr melanjutkan Downtrend dari sejak September 2018 dari 3.25%. Terjadi Technical Rebound pada September 2019 dari 1.4% ke 2% di akhir tahun 2019. Karena Yield gagal untuk naik di atas 2% maka terjadinya kelanjutan Downtrend. Dengan demikian, Breakdown Support (dari 2012) di 1.3% menandakan Yield masih akan terus turun.

Investor terlihat terus membeli UST 10Yr yang dianggap Safe Heaven. The Primary Trader bahkan melihat Yield UST 10Y membuat New Low sepanjang masa (!). Hal ini membuka peluang Yield UST 10Yr dapat mengikuti ‘nasib’ Government Bond yang mengasilkan Negative Yield seperti Jerman dan Jepang.

The Primary Trader perkirakan akan terjadi (kembali) Negative Spread yang artinya Investor lebih banyak membeli Yield UST 10Yr dibanding Yield UST 2Yr. Saat ini Spread Yield UST 10Yr dengan 2Yr sedang Sideways di kisaran 0.1% – 0.2%. Kemungkinan dalam 1-2 bulan lagi kan kembali terjadi Negative Spread.

Dampak Terhadap Pasar Modal Indonesia

Investor Asing tampaknya keluar dari Indonesia dimana hal tersebut juga terlihat dari perlemahan Rupiah terhadap US Dollar. Rupiah saat ini berada di Resistance di Rp13,900 yang menjadi Support kuat menahan Rupiah untuk menguat sepanjang tahun 2019. Ada indikasi Rupiah berhasil melewati Resistance Rp13,900 yang berarti ada perubahan minat Investor. Rupiah pun berpotensi kembali melemah menuju Rp14,500 dan membatalkan potens penguatan menuju Rp13,250.

Keluarnya Investor Asing dari Indonesia membuat tidak ada lagi pendorong Yield SUN10Yr untuk terus turun menuju 5.9%. Yield SUN10Yr berpotensi naik menuju 7% dari saat ini di Support (dan target 2020) 6.5%. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend selama bertahan di bawah 7% dan ada Down Trendline di 6.9%an yang menjadi indikasi awal untuk Downtrend terus bertahan.

The Primary Trader perkirakan Yield SUN10Yr masih akan bertahan Downtrend karena Bank Indonesia (dan pemerintah) cukup reaktif dan ahead the curve dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi karena Corona. Di bulan Februari 2020, Bank Indonesia menurunkan BI 7DRR Rate sebesar 0.25% menjadi 4.75% dan pemerintah menghapus pajak hotel dan restoran serta menurunkan harga tiket pesawat untuk mendorong pariwisata (dan menjaga daya beli masyarakat daerah).

Peluang Menarik di Pasar Obligasi dan Emas

Pasar Obligasi masih menarik ditengah kondisi panik ini. The Primary Trader pun melihat aset emas tetap dan semakin menarik. Saat ini XAUUSD yang menjadi harga acuan emas internasional masih berpotensi naik menuju USD1,800 dari saat ini di USD1,640an. Berdasarkan pergerakan pada 4Q19, XAUUSD berpotensi naik menuju USD1,800 sementara berdasarkan pergerakan sejak 2017 (dan dari sejak Breakout USD1,370 di Agustus 2019), XAUUSD setidaknya naik sampai USD1,700.

Hal menarik pada XAUUSD adalah bahwa target di USD1,800 adalah Resistance penting emas sejak tahun 2012 dimana saat itu adalah puncak dari harga emas (di USD1,920) pada akhir 2011. Dengan demikian, ada potensi emas kembali berjaya untuk jangka panjang (setelah 8 tahun terakhir mencatat kinerja yang kurang baik). Memang masih panjang perjalanan menuju USD1,800 ataupun USD1,920 namun setidaknya Uptrend XAUUSD yang masih sangat kuat membuka peluang emas menuju level tertingginya tetap terbuka lebar.

Bagaimana Dengan IHSG?

The Primary Trader akan membahasnya setelah kepanikan sedikit mereda 🙂

Pendemik Corona Yang Mulai Membuat Panin Secara Global

Semakin Menyebar

Meskipun China terlihat berhasil membatasi penyebaran Corona dari sumber Wuhan, ternyata kasus Corona di berbagai negara terus bertambah. Tidak lama setelah Korea Selatan menyatakan darurat di pekan lalu, Italia mencatat peningkatan kasus infeksi.

Virus Corona relatif tidak mematikan namun penyebarannya sangat kuat sehingga menjadi kekhawatiran masyarakat global. Terlebih lagi virus ini memberi dampak pengurangan aktifitas termasuk aktifitas bisnis di China yang saat ini menyumbang 18% terhadap ekonomi global (dibandinkan tahun 2003 pada kasus SARS dimana ekonomi China 7% – 8% dari ekonomi global).

S&P500 Breakdown Up Trendline

S&P500 yang sebelumnya cukup kebal dan berhasil Recovery pada puncak virus Corona di akhir Januari 2020 akhirnya terlihat “menyerah”. S&P500 Breakdown Up Trendline sehingga mengancam Uptrend menuju 3,500. Ada ancaman S&P500 turun menuju 3,000 sebagai bagian dari awal Downtrend. Meski demikian, masih ada harapan penurunan S&P500 mendekati 3,000 tersebut sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang (yang juga bisa dilihat sebagai Downtrend Jangka Pendek).

Penurunan S&P500 sebagai bagian dari kepanikan Investor terlihat dari VIX yang melonjak melewati level 24 yang menjadi Resistance kuat sejak awal tahun 2019. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Investor terhadap virus Corona itu sendiri yang menyebar dan juga kekhawatiran perlambatan ekonomi yang signifikan karena dampak Corona.

Selain itu, melihat Yield Spread antara Yield US Treasury 10 Tahun dengan 2 Tahun, mulai kembali terlihat potensi Negative Spread yang artinya Yield US2Yr lebih tinggi dari Yield US10Yr. Negative Spread selama ini (sejak tahun 1980an) menandakan adanya resesi di AS.

Saat ini Spread antara Yield US10Yr dengan US2Yr masih sebesar 0.15%. Namun seiring dengan S&P500 sudah Breakdown Up Trendline dan terancam Downtrend, hal ini menandakan potensi Investor swithing dari Equity Market ke Bond Market yang lebih aman. Switching tersebut berpotensi terus menurunkan Yield US Treasury dan membuat Negative Spread bila Investor lebih banyak membeli Yield US10Yr sebagai antisipasi resesi.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

IHSG telah Breakdown Fibonacci Extension di 127.2% atau di 5,831 sehingga kemungkinan besar saat ini IHSG sedang dalam penurunan menuju 5,700an atau di 161.8%.

Secara historis, IHSG memiliki dua Support yaitu di 5,770 yang merupakan Lowest di tahun 2019 dan 5,600 yang merupakan Bottom (Sideways) terpanjang sepanjang sejarah IHSG atau sekitar 8 bulan di tahun 2018. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai Bottoming di level 5,600 – 5,700.

Bullish or Bearish in 2020?

VIX Dalam Posisi Naik

VIX Index yang mengindikasikan volatilitas S&P500 dalam posisi naik yang berarti ada ancaman penurunan pada S&P500. VIX telah stabil di level rendah dari sejak akhir Okt’19 namun sejak awal Nov’19, ada indikasi VIX naik dari level 12 (Bottom) menuju Resistance terdekat di 20.

Perlu diingat bahwa VIX telah turun dari akhir Sept’19 dari level 20 karena ada harapan The Fed memastikan tren penurunan Fed Fund Rate dan adanya harapan Trade Deal AS – China. Di saat VIX mendarat di level 12an (yang mengindikasikan risiko pasar telah berkurang), The Fed memberikan pernyataan untuk mempertahankan Fed Fund Rate. Pada saat itu memang The Fed kembali menurunkan Fed Fund Rate dari 2% menjadi 1.75%. Namun Investor kecewa karena tidak ada Aggressive Cut Rate dan bahkan mungkin tidak ada lagi Cut Rate sampai ada indikasi ekonomi benar – benar memburuk.

The Primary Trader sudah tidak percaya harapan Trade Deal sampai AS dan China menandatangani Deal tersebut. Menjelang akhir Okt’19, masing – masing pihak mengklaim sudah mensepakati fase awal perdagangan. Keduanya bahkan sedang mencari lokasi pertemuan dan tanda tangan fase satu karena agenda pertemuan multilateral di Chili batal karena situasi keamanan di sana. Tentu dapat dimaklumi keengganan China untuk menandatangani perpanjian fase satu di AS. Belum sempat disepakati lokasi pertemuan, perjanjian dagang fase satu terancam batal dan baru – baru ini Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari China lebih besar lagi bila perjanjian fase satu ini batal. The Primary Trader rasa memang selama Trump menjabat sebagai Presiden AS, perang dagang AS dengan negara lain (setelah China, tampaknya genderang perang dagang dengan Uni Eropa akan dibunyikan).

S&P500 Dalam Throwback

Dampak utama dari kenaikan VIX adalah S&P500 terancam turun. S&P500 saat ini telah Breakout 3,000 (dan berada di All Time High) dan dalam Uptrend lanjutan menuju 3,300. Secara jangka pendek, S&P500 sendiri telah Overbought dan memang terancam turun sebagai Tech. Correction. Lebih khusus lagi, menurut The Primary Trader, Tech. Correction yang terjadi paska Breakout Resistance adalah Throwback. Fase Throwback wajar yang tidak membatalkan Uptrend adalah sampai level Resistance (saat ini Support) yang telah di-Breakout tersebut. Dalam hal ini, Throwback S&P500 seharusnya tidak sampai di bawah 3,000 agar S&P500 masih terindikasi valid Uptrend menuju 3,300.

Live chart di sini.

The Primary Trader melihat penurunan yang berpotensi terjadi adalah level yang tepat untuk melakukan Buy on Weakness (untuk saham – saham di AS). Tentu akan sedikit berbeda dengan saham di Indonesia.

Uptrend di Emas, Tanda Buruk di Perekonomian

Emas dapat dianggap sebagai Safe Heaven. Emas akan sangat berharga di saat aset lain tidak ada harganya. Dengan kata lain, menurut The Primary Trader, emas menjadi investasi yang sangat baik di saat kondisi buruk seperti perang atau resesi atau bahkan krisis.

Oleh karena itu, emas yang dalam kondisi Uptrend sejak akhir 2018 adalah tanda bahwa Investor mengkhawatirkan kondisi yang buruk sebagai akibat dari Trade War. Selain itu perlu diingat juga bahwa tahun 2018 adalah kondisi dimana The Fed mulai berpikir untuk menaikkan Fed Fund Rate (normalisasi).

The Primary Trader memperkirakan Uptrend emas belum berakhir meskipun terjadi penurunan dari sejak Sept’19. The Primary Trader melihat penurunan emas yang terjadi 3 bulan terakhir membentuk pola Bullish Continuation. Artinya adalah Uptrend emas yang telah dikonfirmasi setelah Breakout USD1,370 di Jun’19 masih akan berlanjut.

Emas berpotensi naik sampai USD1,700 paska Breakout USD1,370. Dengan demikian, setelah Bullish Continuation selesai, emas masih berpotensi naik sampai USD1,700. Pola Bullish Continuation yang terjadi sejak Sept’19 pun memiliki target dan target tersebut berada di USD1,800. All Time High emas ada di USD1,920an pada saat krisis hutang Yunani. Level USD1,800 menjadi Resistance penting karena beberapa kali emas berusaha terus naik namun gagal.

The Primary Trader percaya emas masih akan naik dan hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Investor mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang buruk (resesi ekonomi) di tahun 2020.

Strategi Investasi

Resesi ekonomi membuat investasi di saham tidaklah menarik. Namun tentu pada saat kondisi apapun telah terjadi, harga suatu aset sudah mencerminkan kondisi tersebut. Dengan demikian, pada saat Resesi benar terjadi di tahun 2020 maka harga aset (terutama saham) sudah turun dalam. Namun bila diperhatikan pergerakan S&P500 dan Yield Treasury US 10Yr, harga keduanya naik tinggi (!).

S&P500 berhasil naik sebesar 23% dari sejak awal tahun sementara Yield US Treasury 10Yr turun dari 2.68% menjadi 1.88%. Penurunan Yield berarti harga obligasi naik.

Live chart Yield US Treasury 10Yr di sini.

Memang perlu dikhawatirkan adanya resesi namun perlu juga dipertimbangkan resiko kehilangan kesempatan Uptrend.

The Primary Trader meyakini IHSG sedang di tahap akhir pola Bullish Continuation jangka panjang. Bila pola ini selesai dan terkonfirmasi maka IHSG akan mengawali Uptrend dalam jangka panjang dengan potensi menuju 8,000. Persyaratan untuk berharap IHSG Uptrend dan naik sebesar 30% dalam 3-5 tahun ke depan pun sudah ada yaitu antara lain dengan pembangunan infrastruktur di Jawa, perpindahan Ibukota yang menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, Kabinet Indonesia Maju (dengan Sri Mulyani kembali sebagai Menteri Keuangan), deregulasi serta proses awal industrialisasi yang bermodalkan komoditas dalam negeri.

Awal Uptrend jangka panjang IHSG adalah ditandai dengan Breakout 6,500. Hal ini merupakan tanda bahwa pola Bullish Continuation selesai dan terkonfirmasi. Oleh karena itu, The Primary Trader sedang menunggu (dan berharap) IHSG Breakout 6,500.

AJKSE - weekly 11/13/2019 open 6171.44, Hi 6183.83, LO 6127.88, Close 6142.5 (-0.6%) 
261.8% 
200.0% 
po.0% 
61.8 
50.0% 
38.2% 
www.theprimarytrader.com 
2019 
6,500 
7935.58 
7014.49 
6100 
5524.04 
4954.68 
4778.81 
4602.94 
2016 
AJKSE - Trade value (RP Mn) 
.00, 
2017 
Weekly Avg 
2018 
(Rp Mn) — 
, Monthly Avg 
8,000 
7,500 
7,000 
6,500 
6,000 
5,500 
5,000 
4,500 
700M 
481,464,: 
445,237,' 
300M 
Created Ami Broker 
charting ane technical analysis soft.vare. htt

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pola Bullish Continuation pun berpotensi batal – bila IHSG Breakdown Support. IHSG akan Breakdown Support pola Bullish Continuation bila turun di bawah 5,900. Artinya adalah bila IHSG turun di bawah 5,900 maka pola Bullish Continuation jangka panjang yang menjanjikan IHSG naik 30% menuju 8,000 dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi batal.

The Primary Trader akan mewaspadai bila dalam waktu dekat, IHSG turun di bawah 6,100.

Ikuti pergerakan live chart -nya di sini.